Hikmah Hari Ini :

"Kaya yang Sebenarnya Adalah Ketenangan Jiwa"
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Menjadi Penulis yang Baik Atau Terbaik?



Menjadi Penulis yang Baik Atau Terbaik?
Oleh : Ahmad Kindi
Syarat utama menjadi penulis adalah menulis. Tanpa menulis Anda tidak akan pernah jadi seorang penulis. Benar?
Tidak benar.
Sekarang, tanpa menulis pun Anda tetap bisa jadi penulis. Syaratnya Anda mesti punya uang. Artinya Anda membayar penulis bayaran untuk menuliskan buku, artikel, cerpen atau apa pun yang diisbatkan atas nama Anda. Beres.
Tidak jadi masalah Anda menulis dengan jasa penulis bayaran, selama isi tulisan Anda memiliki nilai positif bagi pembaca. Karena tulisan sama dengan ucapan. Jika mengandung kebaikan maka akan bermanfaat, baik bagi yang mengucapkan maupun bagi yang mendengar. Anda pasti ingat istilah “lidah tak bertulang” atau “mulutmu harimaumu”. Jika perkataan Anda tidak membawa kebaikan maka bisa membahayakan orang lain dan diri Anda sendiri.
Begitu pun tulisan. Sebuah tulisan bisa membawa perdamaian, juga bisa menimbulkan peperangan. Tulisan bisa mendidik, juga bisa untuk memfitnah. Jika menulis dengan niat yang baik dan ditulis dengan baik maka tulisan Anda akan menjadi kebaikan. Intinya jangan sampai tulisan Anda mencelakakan. Mencelakakan diri Anda sendiri dan orang lain.
Nah, sekarang bagaimana rumus menjadi penulis terbaik?
Allah SWT berfirman di Surat Fushshilat ayat 33 yang artinya
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslim)?”
Ini berarti ada tiga hal yang menjadikan perkataan seseorang menjadi perkataan yang paling baik. Dengan kata lain, tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan yang mengandung tiga unsur berikut:
1. Menyeru kepada Allah
2. Mengerjakan amal saleh
3. Mengatakan, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslim)
Ingat, perkataan dan tulisan adalah sama. Hanya saja yang satu disampaikan secara verbal (lisan). Satunya lagi disampaikan secara simbolik (tulisan).
Berdasarkan Surat Fushshilat ayat 33 di atas, maka kita dapati bahwa rumus menjadi penulis terbaik adalah dengan memenuhi tiga kriteria tersebut, yaitu:
1. Tulisan Anda mengandung seruan (dakwah) kepada Allah.
2. Tulisan Anda merupakan hikmah dari amal saleh yang Anda lakukan. Artinya Anda menuliskan apa yang memang telah Anda amalkan. Alias bukan cuma teori.
3. Tulisan Anda menunjukkan identitas Anda sebagai seorang muslim.
Itu dia rumus menjadi penulis terbaik.
Sekarang, apakah Anda tertarik melakukannya?
Oh, Anda tidak ingin menjadi penulis terbaik? Anda hanya ingin menulis, tanpa ada embel-embel “terbaik” atau embel-embel apa pun? Itu sah-sah saja. Anda tidak ingin menjadi penulis terbaik seperti rumus di atas itu terserah Anda. Namun sebelum menutup, ijinkan saya mengajak Anda, paling tidak mari kita menjadi penulis yang baik. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari, Muslim)
Ingat, menulis sama dengan berbicara. Maka mari kita menulis yang baik-baik sebagaimana kita diajarkan berbicara yang baik-baik. Jika Anda tidak membuat tulisan terbaik maka paling tidak Anda membuat tulisan yang baik. Tulisan yang mengandung kebaikan. Atau jika tidak, lebih baik jangan menulis sama sekali. Itu pun jika Anda beriman kepada Allah dan hari akhirat. Karena tulisan yang tidak baik bisa saja mencelakakan. Begitu banyak tulisan-tulisan berisi dusta. Memfitnah dan sebagainya. Semoga kita tidak lupa bahwa semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak. Termasuk tulisan.
Akhirnya, pilihan di tangan Anda. Jika tulisan Anda baik maka hasilnya akan baik untuk Anda. Sebaliknya, jika tidak, maka kecelakaan juga bagi Anda sendiri. Sekali lagi, mari menjadi penulis terbaik, atau paling tidak menjadi penulis yang baik. Jika tidak, lebih baik jangan menulis sama sekali.
Sumber Tulisan :
http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/27/menjadi-penulis-yang-baik-atau-terbaik/

Senin, 04 Juni 2012

Nyambi Jadi Penulis?

Oleh: Lufti Avianto

Di negara ini, profesi sebagai penulis belum bisa dihargai. Kalau mau melihat secara jujur, royalti yang diterima belum berpihak bagi kesejahteraan para penulis. Kisaran royalti, hanya sampai 20% saja, tergantung dari nama besar penulis yang bersangkutan. Bila sudah terkenal, bisa nego lebih lanjut dengan pihak penerbit. Tapi kalau newcomer, nilai 20% sudah jauh lebih cukup karena di sebagian besar penerbit, masih ada yang menawarkan royalti di bawah nilai itu.Kalau pun ada yang berhasil meraurup keuntungan sebagai penulis, masih bisa dihitung dengan jari saja. Misalnya, Habiburrahman El-Shirazy yang kabarnya mendapatkan royalti Rp 2 milyar lebih dari hasil karyanya, novel Ayat-Ayat Cinta. Jumlah itu belum termasuk keuntungan novel yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan keuntungan dari pembuatan filmnya.
Itu yang beruntung. Bila tidak, ada penulis yang hanya mendapatkan beberapa ribu saja dalam pembayaran royalti per enam bulannya. Sayangnya, kondisi ini sangat kontradiksi dengan beberapa negara lain yang sudah bisa menghargai profesi sebagai penulis. Seperti JK. Rowling di Inggris yang kaya- raya dari serial penyihir cilik Harry Potter. Bahkan kabarnya, kekayaan Rowling melebih ratu Inggris sekali pun!Atas fakta ini, bukan berarti jumlah penulis di republik ini sedikit. Sederet nama beken dalam jagad kepenulisan pun lahir. Dan rata-rata mereka menjadi penulis sebagai profesi sambilan. Seperti Tere Liye, nama pena dari Darwis seorang wartawan harian sebuah harian nasional,
So, jadi penulis itu bisa dilakukan sebelum kita menjadi apa pun. Bisa jadi dokter, insinyur, guru, konsultan, wartawan, seniman atau apa pun yang kamu mau, tapi tetap bisa menjadi penulis. Gimana caranya?

Pikir ulang ikut pelatihan

Boleh aja kalau sobat sekalian mau ikutan latihan atau workshop kepenulisan. Tapi, itu hanya memicu motivasi kita aja kok. Apalagi, kalau biaya pelatihan itu tak terjangkau alias mahal, mending nggak usah aja. Itu aja kuncinya. Jadi pikir berulang kali kalau mau ikutan pelatihan menulis yang mahal. Lain halnya, kalau biaya tak menjadi sersoalan bagi kamu. Intinya, bijak dalam memilah pelatihan yang kamu butuhkan.Ikut komunitas kepenulisan, lebih baikMemang komunitas semacam ini masih kalah banyak jumlahnya dengan komunitas lainnya. Dengan bergabung di komunitas kepenulisan, kamu bisa menambah teman, ilmu, dan yang paling penting, bisa menjaga semangat dan motivasi kamu dalam menulis. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum, lho, kalau di komunitas juga sering bagi-bagi proyek menulis. Asyik kan?Forum Lingkar Pena (FLP), adalah salah satu komunitas kepenulisan yang sudah memiliki banyak cabang. Kamu bisa mempertimbangkan untuk bergabung. Bagaimana kalau komunitas yang dimaksud terlalu jauh? Atau kita tidak ada waktu untuk ikut bergabung? Tenang sob, kamu bisa ikutan gabung dalam mailing list (milis) kepenulisan. Jumlahnya sudah banyak kok.

Resepnya cuma menulisJurus jitu jadi penulis itu cuman tiga. Ini juga yang jadi ‘barang dagangan’ pelatihan. Semua mengiming-imingi dagangan yang sama, yaitu menulis, menulis dan menulis. Sebenarnya, kamu bisa praktik menulis secara otodidak. Menulis saja. Itu kuncinya.Menurut salah seorang penulis terkenal, pekerjaan menulis atau menuangkan ide sejatinya adalah membua retakan-retakan kecil dalam ‘bendungan’ di otak kita. Terkadang, bagi para penulis pemula, proses ini menjadi tidak mudah karena sulitnyamenuangkan ide dalam sebuah tulisan. Nah, dalam proses menulis yang kontinyu, retakan itu menjadi semakin banyak dan akhirnya jebol bendungan yang menyulitkan kita dalam menuangkan ide itu.Sebagai sarana berlatih, kamu bisa menulis buku harian atau blog secara rutin. Tulislah apa pun yang terlintas dalam pikiranmu. Lupakan soal teknik kepenulisan, lupakan soal diksi, lupakan soal logika tulisan, tugasmu hanyalah menulis dan menuangkan ide, itu saja. Setelah sebuah tulisan selesai, barulah tahap penyuntingan dilakukan. Baca kembali, lalu perbaiki bagian-bagian yang tidak logis atau sunting tulisanmu secara teknis, seperti penggunaan titik-koma, penggunaan huruf capital, atau penggunaan tanda baca lainnya.
EvaluasiDari tulisan yang sudah kamu buat, mintalah komentar dan saran dari temanmu. Atau, perhatikan komentar yang di-posting orang terhadap tulisanmu di blog. Jangan putus asa atau patah arang bila komentar miring yang kamu dapat. Sebaliknya, jangan besar kepala saat pujian kamu dapatkan.
Saatnya Go PublicJangan simpan tulisanmu di komputermu atau membiarkan nge-jogrok di blog saja. Cobalah memberanikan diri menawarkan naskahmu ke penerbit atau kirim artikelmu ke media massa. Pelajarilah media mana saja yang menerima tulisan dari pembacanya. Kenali jenis rubriknya, apakah itu cocok dengan tulisan milik kamu. Atau di penerbit, kamu juga harus mengenali buku apa saja yang bisa diterbitkan di penerbit yang bersangkutan. Jangan sampai salah sasaran.Misalnya, penerbit A menerbitkan buku-buku bergenre fiksi, maka jangan mengirimkan naskah di luar genre yang menjadi pakem penerbit tersebut. Mengenali jenis terbitan sang penerbit sangat penting agar naskah kamu memiliki peluang lebih besar untuk diterbitkan. Hal yang sama juga harus kamu lakukan bila mengirim artikel di media massa.
Jadi Penulis SambilanLiriklah bidang yang kamu minati. Bila kamu menyukai suatu bidang, tulislah naskah atau artikel yang berkaitan dengan bidang itu. Selain untuk menambah dan memperdalam pemahaman kamu, juga ada ‘efek samping’ yang positif, misalnya dapat honor tambahan. Siapa pun kamu, pelajar, mahasiswa atau karyawan, bisa memperdalam bidang yang kamu akan atau sudah geluti dengan menulis. Tetapi perlu diingat, penghargaan, royalti atau honor tambahan yang kamu peroleh, hanyalah sebuah konsekuensi positif dari upaya kamu yang sungguh-sungguh dalam menulis.Hal ini pernah disampaikan Asrori S. Karni, salah seorang pemenang Mochtar Lubis Award, sebuah penghargaan bergengsi dunia jurnalistik pada 2008 lalu. “Yang terpenting adalah menulis dengan kesungguhan dan keikhlasan. Soal penghargaan dan hadiah, adalah dampak dari proses sebelumnya,” kata dia yang berprofesi sebagai wartawan sebuah majalah berita mingguan ini.Jadi, meski kamu menulis sebagai kegiatan di waktu luang kamu, lakukankah dengan niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Nisacaya, setiap tulisan yang lahir dengan proses terbaik, pasti punyah ‘jodohnya’ yang terbaik pula.