Hikmah Hari Ini :

"Kaya yang Sebenarnya Adalah Ketenangan Jiwa"
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

Bakso Cinta untuk Ainun


Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta semalam diguyur hujan. Sampai siang ini pun desa yang asri dan sejuk ini masih diwarnai mendung dan kabut tebal. Membuat langit tampak gelap meskipun waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Jalanan becek, udara yang berhembus pun terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin itu pula yang membuat warung baksoku hari ini tampak sepi. Tumben sekali para pelanggan yang sebagian besar karyawan dan karyawati pabrik tempe di sebelah warungku itu belum memunculkan batang hidung mereka. Biasanya, selepas aku bergantian sholat Dzuhur dengan Pak’e, mereka sudah beramai-ramai menyerbu bakso racikanku yang cukup terkenal di desa Sriharjo ini. Namun, mengapa hari ini tampak sepi? Kemana mereka? Jujur saja, suasana seperti ini membuatku tak bersemangat dan bermalas-malasan. Duduk, berbaring dan melamun. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Kasihan Pak’e harus jadi korban kemalasanku. Dia mengelap meja dan mencuci peralatan sendirian. Tak tega ku melihatnya.

“Biarkan saja Pak’e. Nanti biar Amar yang mengerjakan itu..” kataku mencuri perhatian.
“Memangnya pekerjaan ini bisa selesai hanya dengan duduk dan melamun saja, Mar?” Ah, Pak’e, kata-katanya lembut tapi ada sindiran kuat disana. Sindiran tepat untuk orang yang malas-malasan sepertiku.
“Ya ndak sih, Pak. Tapi itu kan bisa dikerjakan nanti. Lagi pula pelanggan kita hari ini sepi..” Jawabku mencari alasan.
“Terus kalau pelanggan sepi, kita mesti malas-malasan, begitu? Ya ndak boleh lah..yang namanya semangat itu ndak kenal keadaan, Mar. Mau sepi mau ramai ya kita harus tetap semangat. Karena semangat itu bagian dari sabar, sedangkan sabar bagian dari iman..”
“Iya Pak’e, Amar paham..” Kalau diteruskan Pak’e bisa khotbah panjang lebar. Warung bakso berukuran lima kali enam meter ini bisa berubah menjadi forum pengajian.
“Oalah, anak jaman sekarang! Dinasehati orang tua jawabannya paham-paham saja..”
“Hehe...”

“Assalamu’alaikum, Kang Amar. Baksonya dong dua mangkuk ya, yang satu ndak pake sayur dan sambalnya yang banyak ya, Kang. Yang satu lagi campur tapi ndak pakai sambal..” Suara Siti, salah satu karyawati di pabrik tempe itu tiba-tiba menyambar dari pintu belakang.
“Masya Allah, Siti. Bisa ndak si sampean[1] lebih kalem sedikit. Kalau jantung saya copot, gimana?
“Hehe, ya maap Kang. Namanya juga perut udah keroncongan. Ya udah ya, Kang. Ditunggu. Cepetan ndak pake lama..”
“Dasar gendut ! ngomong pelan-pelan juga dengar. Ndak perlu teriak-teriak…”
“Huss, Amar. Ndak baik ngrasani[2] orang seperti itu. Apalagi dia kan pelanggan setia kita yang seharusnya kita perlakukan istimewa. Sana, cepat kamu siapkan pesanan mereka !”
Inggih pak, inggih[3]..”

Sembari menyiapkan bakso, sesekali kualihkan pandanganku ke arah meja makan. Ada dua gadis berjilbab khas karyawati pabrik tempe disana. Yang satu sudah sangat aku kenal, namanya Siti, gadis berbadan bongsor, suaranya lantang, dan humoris. Tapi, siapa gadis yang duduk di sebelahnya itu? Sepertinya baru kali ini aku melihatnya? Pasti dia karyawati baru di pabrik tempe itu.
“Mar. Sedang apa kamu? Tangannya kemana, matanya kemana..?!” tiba-tiba Pak’e menjawil tanganku.
“Eh, Pak’e. Bikin kaget saja. Itu lhoh, Pak. Sepertinya ada karyawati baru…”
“Memangnya kenapa kalau ada karyawati baru..?”
“Ya, mau Amar ajak kenalan. Hehe..”
“Heh, ndak usah macam-macam kamu, Mar. Sana antar pesanannya..”

“Sit, teman-teman yang lain mana? Kok ndak ikut ke  warung?” Tanyaku pada Siti, sambil meletakan dua mangkuk bakso ke meja makan.
“Mereka pada makan di kantin pabrik. Katanya malas, jalanan becek, dingin lagi. Aku juga sebenarnya malas, Kang. Tapi karna si Ainun memaksaku kesini, ya akhirnya aku kesini. Katanya dia penasaran sama bakso favorit buatan kang Amar.. oh iya, Kang. Kenalin nih karyawati baru, namanya Ainun. Dia baru datang dari Sukabumi seminggu yang lalu dan disini dia tinggal sama bibinya di Desa Karang Tengah.”
“Oh iya, namaku Amar, dan itu bapakku.” Gadis itu menelungkupkan tangannya di depan dada. Pak’e menyalami karyawati baru itu, “Selamat datang di warung bakso kami ya, Nak.!”. Sekilas dia melayangkan senyum, ada lesung di pipi kanannya. Bulu matanya yang lentik pun ikut mengerjap-ngerjap. Sayangnya, dia hanya tersenyum dengan  Pak’e, tidak dengan aku.
“Mar, sini sebentar, Le..” tiba-tiba Pak’e memanggilku.
“Yo wis, monggo dinikmati baksonya..!” Kataku mempersilahkan.

Aku membalikan badanku ke dapur. “Wonten nopo tho[4], Pak? Wong Amar pingin ngobrol sebentar sama karyawati baru itu”.
“Ngapain tho ngobrol-ngobrol segala, memangnya ndak ada kerjaan apa? Tuh, kamu lanjutkan nyuci piringnya, Pak’e mau ke toko material sebentar…”
“Oh, nggih Pak. Hati-hati..”.
Sambil mencuci piring, kupandangi gadis itu dari balik sekat kaca yang sudah memburam. Namanya Ainun, nama yang unik, seunik orangnya. Dia manis tapi tidak murah senyum, dia berjilbab tapi tidak lembut,  aneh. Itu yang membuatku penasaran ingin tahu bagaimana sifat aslinya yang sebenarnya. Tiba-tiba, Ainun tersedak dan ingin memuntahkan isi mulutnya. “Kenapa sampean, Nun?” Tanya Siti panik. Cepat-cepat aku menghampiri mereka.

“Masya Allah, katanya ini teh bakso nu terkenal, nu favorit. Kok rasana te enak, asin pisan. Kumaha atuh, Kang?” Melihat tingkah dan ekspresi wajah Ainun, Siti terpingkal-pingkal menahan tawa. Sepertinya bakso yang kubuatkan terlalu asin, aku pun tak sengaja ikut menertawakannya.
“Ini teh kumaha,  pada ngetawain Ainun. Memangnya ada yang lucu? Kalau te percaya, Sok atuh cobian baksona? Kumaha menurut Akang?” Kata Ainun menyodorkan baksonya padaku.  Dengan ragu aku pun mencicipi bakso itu. Astaghfirullah, tak salah lagi. Aku kebanyakan memasukkan garam. Pasti karena sambil mengobrol dengan Pak’e tadi. “Maaf, Ainun. Aku benar-benar ndak sengaja. Aku lupa. Maaf ya..”
“Ooo.. Mentang-mentang abdi[5] teh orang baru disini, anjeun[6] bisa ngerjain abdi seenaknya??
“Sekali lagi maaf, Ainun. Tapi demi Allah ndak ada niat sedikitpun buat ngerjain sampean. Ini murni kelalaian saya..”
“Kalau begini caranya, abdi teu jadi makan. Ayo, Teh. Kita balik ke pabrik..”
“Aduh, ojo nesu ngono[7], Ainun. Aku yakin Kang Amar bukan orang kayak gitu, dia pasti ndak sengaja. Kita mangan maneh[8], yo!” Bujuk Siti.
“Udah nggak ada selera, Teh. Kalau Teteh masih mau makan ya mangga. Biar abdi ke pabrik sendiri wae.”
“Aduh, Neng. Jangan pergi dulu ya, biar Kang Amar buatin lagi baksonya..” Aku berusaha membujuknya tapi dia tetap melenggang meninggalkan warung, mau tidak mau Siti pun mengikuti langkahnya. “Piye to, Kang. Kok bisa-bisanya garamnya kebanyakan. Pasti ngelamun yo, sampean?. Hmm, payah!” kata Siti sambil meninggalkan uang sepuluh ribu di meja makan.

Aku menghela nafas panjang. Malu rasanya mengingat kejadian tak terduga ini. Padahal Pak’e selalu mengajariku untuk selalu memberi yang terbaik kepada setiap pelanggan, dan tidak lupa mengutamakan kualitas. Tapi perbuatanku hari ini justru merusak reputasi baksoku yang selama ini sudah dikenal orang. Aku sudah mengecewakan Ainun, pelanggan baru yang membuatku salah tingkah. Mungkin dengan kejadian ini, aku tak bisa lagi melihatnya singgah diwarung ini untuk yang kedua kali.

Hari telah berganti. Mengganti mendung dengan hari yang lebih cerah. Alhamdulillah, hari ini pelanggan mulai ramai seperti biasanya, bahkan dengan jumlah yang lebih banyak. Dan tak seperti dugaanku, gadis Sukabumi yang aku kecewakan kemarin, ternyata muncul lagi. Semoga dia sudah memaafkanku. Setidaknya peristiwa kemarin bisa menjadi pelajaran bagiku. Semua pekerjaan harus dikerjakan dengan fokus dan hati-hati, tidak dengan mengikuti hawa nafsu sesaat yang ternyata  menghancurkan apa yang selalu aku jaga selama ini. Dan hari ini aku akan meminta maaf lagi pada Ainun, aku ingin meyakinkannya bahwa aku memang tidak sengaja memasukan garam terlalu banyak ke baksonya kemarin.

“Ini baksonya, Neng…” kataku sambil meletakan bakso di depan Ainun.
Ndak pake ngelamun lagi kan , Kang? Awas saja kalau sampai teman baru kita ini kabur gara-gara baksonya keasinan. Hihihi...” Ujar Siti dengan guyonan khasnya, disambut riuh dan cekikikan para karyawati lain yang mungkin sudah mendengar cerita yang cukup memalukan itu. Ainun memasang wajah cemberut. Ia memandangku dengan tatapan sinis.
 Piye kabare, Neng? Aku pikir sampean kapok datang kesini..” Tanyaku pada Ainun, mencoba bersikap biasa padanya.
Tenanaon[9], Kang. Namanya juga manusia, yang penting teh Akang janji nggak ngulangin lagi..”  jawab Ainun tanpa ada senyum mendarat di wajahnya.
“Tapi sampean percaya kan kalau aku ndak sengaja nglakuin itu..?” Dia hanya mengangkat bahu.
“Nih, Kang, ada martabak tempe bikinin Ainun. Anggap aja ini teh tanda maaf Ainun karena kemarin langsung pergi gitu aja.” Ujarnya lagi sambil mengulungkan bungkusan plastik warna merah. Tak disangka, biarpun wajahnya sinis, tapi nyatanya dia gadis yang baik. Padahal aku sudah mengecewakannya, tapi dia balas dengan martabak tempe buatannya ini. Tak henti-hentinya aku berterimakasih.

Aku buka bungkusan itu dan aku nikmati isinya bersama Pak’e. Martabak tempe yang gurih. Sampai-sampai gurihnya meresap ke dalam hati.
“Tempe saja iso disulap dadi martabak, kreatif juga gadis itu ya, Le. Kayak almarhumah Bu’e yang pintar berkreasi kalau soal makanan.” Komentar Pak’e sambil terus mengunyah martabak. Benar juga, kehadiran Ainun mengingatkanku pada sosok Bu’e, hanya saja Bu’e lebih lembut daripada Ainun. Aku jadi tergelitik ingin mengenal Ainun lebih dekat dan membuatnya lebih lembut. Ya, Allah. Apa aku boleh berharap seperti itu.
“Kenapa, kok malah ngelamun?” Tanya Pak’e lagi.
“Eh ndak, Pak. Emm anu, ingat Bu’e, Pak’e..”
“Ayo, ingat Bu’e apa ingat Ainun?”
Hehe, Pak’e bisa saja menebak pikiranku.

Hari-hari terus berlalu, seiring dengan bertalunya sang waktu yang terasa berjalan singkat. Tanpa terasa, lama sudah ku kenali sosok Ainun yang kini bisa kutemui setiap hari. Meski belum genap setahun aku mengenalnya, rasanya sudah cukup membuatku paham, dibalik sikap dinginnya, ia mempunyai hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Sampai-sampai ia menyarankanku agar model baksoku yang umumnya berbentuk bulat itu diganti dengan bentuk hati yang bisa mem. Namanya pun ia ubah menjadi Bakso Cinta Kang Amar. Menurutnya, apa salahnya berinovasi dari sebuah karya seni yang belum diwujudkan. Jadi, bakso cinta ini tidak hanya ada di sebuah novel, tapi bisa dinikmati didunia nyata, ya di warung baksoku sekarang ini. Tak hanya itu, warungku pun ia design sedemikian rupa hingga menguatkan karakter cinta. Dari warna cat, hiasan dinding, sampai di beberapa sudut warung ia tanami bunga-bunga yang indah, karena menurutnya, cinta dan bunga hampir selalu identik dengan kebahagian dan hampir semua orang menyukai keduanya. Idenya memang cemerlang, tak heran jika kemudian warung baksoku semakin terkenal sampai pelosok desa di seluruh kecamatan Imogiri ini.

Diam-diam ku memikirkannya. Ada perasaan kuat yang tertahan disini, walau aku tahu tak semestinya kubiarkan perasaan ini bersemayam. Apakah ini yang disebut jatuh cinta, ya Allah? Apa aku jatuh cinta pada Ainun?? Ya. Selama ini, aku memang tak pernah bisa mengutarakan perasaan ini, aku menunggu saat yang tepat untuk aku bisa mengkhitbahnya. Tapi tak bisa ku berpungkir, jiwaku resah, pikiranku melayang-layang ketika hati ini kehilangan bayangan dirinya.

Siti dan karyawan yang lain sudah memadati warung, tapi mataku tak menemukan Ainun di tengah-tengah mereka. “Kemana dia?” Tanyaku pada Siti.
“Hari ini dia udah mulai cuti, Kang”
“Cuti? Memangnya mau kemana?”
“Lho, memangnya Kang Amar ndak dikasih tahu. Dia kan pulang kampung, dia mau walimahan..”
Masya Allah, dia menikah? Apa aku tak salah dengar? Ini tak mungkin. Kenapa dia tak pernah cerita kalau dia akan menikah dengan orang lain. Kenapa dia biarkan aku jatuh cinta lalu pergi meninggalkan rasa ini? Sakit betul rasanya mendengar kenyataan ini.
“Kenapa sampean, Kang?”
“Dia menikah sama siapa, Sit?”
“Emm, katanya sama orang Sukabumi juga, Kang”
“Dia ndak pesan apa-apa sama kamu?”
Ndak sih, Kang. Tapi kemarin dia sempat nanya gini, menurutmu kalau ada dua orang yang mencintai kamu, tapi yang satu serius dan berani mengungkapkannya, sedangkan yang satu lagi hanya bisa memendam di hatinya, kamu akan pilih yang mana? Ya aku jawab saja, jelas aku akan pilih orang yang serius dan jujur mengungkapkan perasaannya. Apa lagi orang itu juga siap menikahiku.. Sampean setuju ndak sama jawabanku?”
“Ya, aku setuju…” Itu jawaban bagi orang yang tidak tahu perasaanku. Jelas saja dia memilih laki-laki itu. Memangnya aku bisa apa? Jangankan melamarnya, mengutarakan perasaan ini saja aku tak mampu. Aku melengos meninggalkan Siti. Dia terheran-heran, memanggilku beberapa kali. Aku tak peduli.

Kupandangi bunga-bunga yang mewarnai pojok-pojok warungku. Bunga-bunga ini selalu mengingatkanku pada wajah Ainun yang bercahaya dan menyemangati. Tapi, sekarang justru aku kehilangan semangat ketika kusadar, tak bisa kumiliki Ainun selamanya. Aku sadar, cinta memang bukan segalanya, tapi kehilangan cinta seperti kehilangan segalanya. Kini dia telah memilih jalan hidupnya sendiri tanpa peduli akan perasaan yang dia tinggalkan disini. Ah, mengingat wajahnya sama saja melukai perasaanku. Mungkin akan lebih baik jika aku perpaling dan melupakannya, terpaksa ku pindahkan  bunga-bunga ini kebelakang agar bayang-bayangnya bisa hilang dari pandanganku.

“Kenapa sama bunga-bunga itu, Mar. Kok dipindah ke belakang?”
“Biar Amar bisa lupain Ainun, Pak’e..”
“Wah, Jangan-jangan kamu menyukai Ainun, ya?”
“Kenapa Pak’e tiba-tiba nanya begitu?”
“Ya, Pak’e tahu dari sikap kamu selama ini. Kalau memang iya, Pak’e siap melamarnya untuk kamu, Mar”
Ya, Allah. Kenapa baru sekarang Pak’e berkata seperti itu ketika semua sudah terlambat.
“Belum juga dimulai, perasaan ini sudah harus diakhiri, Pak’e”
“Lhoh, memangnya kenapa?”
“Ainun sudah dilamar orang…” jawabku meratapi nasib cintaku.
“Wah, baru jatuh cinta sudah patah hati, kasihan sekali kamu, Mar. Hehe.. yo wis,  ikhlaskan saja, Mar. Yang namanya jodoh, rizki, dan kematian itu urusan Allah. Yang penting kita tetap ikhtiar, sabar, dan tawakkal. Ndak perlu sedih begini, Insya Allah kalau sudah saatnya, kamu pasti ketemu jodoh kamu, Mar.”

“Tapi Pak, Amar merasa ada sesuatu yang pergi. Amar ini manusia biasa, Amar juga bisa sedih, Pak’e..”
“Iya, Pak’e bisa mengerti perasaan kamu, Mar, karena dulu Pak’e juga kan pernah muda. Tapi ndak semestinya kita terpuruk seperti ini,  hanya karena apa yang kita harapkan ndak sejalan sama kenyataan. Yo wis, begini saja, Minggu pagi ba’da Shubuh kamu ikut kajian sama Pak’e ya, di masjid Al-Hijrah desa Karang Tengah, ada Ustad Khoirul Anam yang ceramah-ceramahnya insya Allah bisa mencerahkan, bagaimana?”
“Inggih, Pak’e. insya Allah nanti Amar ikut..”
“Nah, begitu. Ndak perlu sedih lagi, ikhlaskan saja ya..”
Aku mengangguk lemas.

Sabtu malam pun menjelang, aku dan Pak’e memutuskan untuk bermalam di masjid Al-Hijrah karena jarak antara desa Sriharjo dengan desa Karang Tengah cukup jauh. Adzan shubuh membangunkanku di Minggu pagi yang bersemilir. Dengan semangat yang belum sepenuhnya kembali, kudirikan sholat Shubuh berjama’ah dengan warga Karang Tengah. Usai sholat, semua jama’ah menempatkan diri untuk mengikuti kajian. Mayoritas jama’ahnya adalah  laki-laki, sedangkan jama’ah perempuan hanya ada tiga shaf, itu pun kebanyakan orang tua. Semalam aku berhayal bisa menemukan jodohku disini. Bahkan, andai saja  Ainun masih tinggal disini, pasti aku bisa menemuinya. Tapi setelah melihat keadaan ini, aku malu sendiri. Bukankah kedatanganku ke tempat ini mencari pencerahan dan ketenangan? Bukan mencari jodoh atau yang lainnya? Ya Allah, ampuni hamba yang lemah ini…

Pukul enam pagi kajian usai. Apa yang disampaikan Ustad Khaoirul Anam tadi cukup menyentuh, ketika ia bicara keikhlasan. Ya, ikhlas kini bukan sekadar menjadi teori, tapi praktik yang harus aku terapkan dengan sebenar-benarnya. Mengikhlaskan Ainun dan kembali menjalani hidup seperti dulu tanpa iringan langkah dan raut wajahnya yang tak murah senyum itu. Pak’e mengajakku keluar masjid, tiba-tiba beliau menarik tanganku dengan langkah yang lebih cepat. Matanya tertuju pada dua orang gadis berkerudung yang berjalan dari arah berlawanan. Sayup-sayup terlihat, Siti dan Ainun. Benarkah itu Ainun?

“Assalamu’alaikum..” salam Ainun.
“Wa’alaikum salam” jawab kami hampir bersamaan.
“Loh, ngapain sampean-sampean disini?” tanyaku sambil terus menata hati. Antara percaya dan tidak percaya aku bertemu Ainun di majlis ini.
“Yo kita ikut pengajian lah, Kang, masa iya kita shoping..” jawab Siti enteng.
“Eh si Eneng, kapan datang? Bukannya sampean di Sukabumi? Kamu pergi ndak pamit-pamit sih? Kami juga ndak diundang-undang? Eh ya, mana suamimu?”
“Oalah Mar, kalau nanya mbok ya satu-satu, si Ainun kan jadi bingung jawabnya” Ujar Pak’e menjawil tanganku.
“Eh, maaf ya, Neng. Hehe..”

“Ainun teu jadi nikah, Kang..” lirih Ainun
“Masya Allah, memangnya kenapa?” tanyaku amat penasaran.
“Ainun tertunduk, matanya seperti menahan butiran air yang tertahan dikelopak mata. Tampaknya ia tengah bersedih, mungkin pertanyaanku hanya akan menambah kesedihannya.
“Emm, yo wis, kalau sampean ada masalah ceritalah sama kami, Insya Allah kami akan jadi pendengar yang baik. Dan kalau sampean mau, kami tunggu di warung nanti siang. Bagaimana?”
“Baiklah, insya Allah nanti siang Ainun ke warung, nyak !” jawab Ainun dengan mata berbinar.
“Aku diajak ndak nih?” Selang Siti tak mau kalah.
“Iyo, pasti…” Jawabku dengan perasaan bahagia.

Waktu berjalan terasa semakin cepat. Tanpa ku sadari Allah baru saja menunjukan kekuasaan-Nya padaku, bahwa tak ada yang mustahil di dunia ini. Semua bisa terjadi atas kehendak-Nya. Bahkan dengan cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Hari ini, Allah menyatukan kami dalam ikatan suci yang membuat hati kami semakin cinta pada-Nya. Semua orang turut berbahagia dalam haru. Pak’e dan Siti juga menitikkan air mata, air mata penuh kebahagiaan. Dan bakso cinta ini, kupersembahkan untuk Ainun seorang. Duh, aku bahagia ketika dia tersenyum. Terima kasih ya Allah atas anugerah cinta ini.



[1] kamu
[2] Mengolok-olok
[3] iya
[4] Ada apa
[5] Aku
[6] kamu
[7] Jangan marah
[8] Makan lagi
[9] Tidak apa-apa

Senin, 04 Juni 2012

Cerpen islami - Asma Nadia


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.


Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

Rabu, 23 Mei 2012

Manisnya Sebuah perjuangan

Seperti biasa, aku bangun pagi dengan penuh perjuangan. Setelah semalaman begadang, aku tetap harus bangun pagi, aku harus semangat mengajar lagi. Ya, mengoreksi soal, mengisi raport, dan membuat laporan bulanan adalah tugas-tugas yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat ini. Sungguh, sebuah tugas yang harus aku selesaikan dengan penuh perjuangan, perjuangan melawan kantuk, capek, malas dan rasa pegal-pegal yang terasa menusuk tulang belulang. Namun, pagi ini dengan sisa semangat yang melekat di dada, kuteruskan langkah kaki menuju taman belajar, taman bermain yang indah dan menyejukkan hati. BKB-PAUD Melati …

Entah kenapa, pagi ini aku merasakan ada hawa yang berbeda. Hawa tanpa semangat biasanya. Hawa yang dipenuhi rasa kekecewaan. Betapa tidak, Sudah lebih dari tiga pekan aku menanti dengan harap-harap cemas sebuah pengumuman beasiswa. Sejak bulan Nopember berganti dengan Desember, hampir setiap malam aku pantengin sebuah situs web bernama www.beasiswajakarta.com. Situs inilah yang memberi harapan dimana aku diterima sebagai penerima beasiswa rekruitmen baru tahun 2011/2012 di Yayasan Beasiswa Jakarta. Dan tadi malam, aku sangat berharap namaku, Aida, dan nama sahabatku, mbak Erlina, terpampang di www.beasiswajakrta.com itu. Namun, hingga aku lelah memantenginnya, beranda di situs itu belum juga berubah, belum ada tanda-tanda penerima beasiswa itu di umumkan. Padahal, ketika aku dan mbak Erlina mengajukan beasiswa itu, Pak Syafi’i, bapak yang mengurusi beasiswa khusus Perguruan Tinggi, mengatakan kepada kami, bahwa pengumuman dapat dilihat sejak awal bulan Desember. Dan saat itu kami sangat optimis pengajuan kami diterima. Namun, diawal bulan Desember, pengumuman belum tertera di web yayasan itu. Beberapa minggu kemudian, mbak Erlina bilang ternyata pengumuman itu akan diberitahukan  dipertengahan bulan Desember ini. Ya, aku merasa sedikit lega karena itu berarti masih ada kesempatan bagiku untuk bersabar menanti pengumuman itu.

Hari-hari pun terlewati. Tibalah saatnya aku melihat pengumuman itu lagi. Namun, tetap saja belum ada pengumuman yang berarti, aneh..! gumamku. Aku semakin resah ketika angka dikalenderku sudah menunjukan bahwa hari ini tanggal 20 Desember. Belum ada pengumuman.. Ditambah lagi, sekarang mbak Erlina pindah kost-an dan belakangan sangat susah dihubungi. Membuat aku gelap informasi tentang baesiswa ini, apa yang sebenarnya terjadi..? Huh, aku mendesah pasrah. Ya Allah, Bila memang beasiswa itu rezeki hamba dari-Mu, dekatkan dan mudahkan hamba dalam meraihnya, namun, jika itu bukan rezeki hamba, jadikan hamba-Mu ini, hamba yang sabar ! Doaku penuh harap.

Masih dalam keadaan kurang semangat, hari ini aku mengajari anak didikku bagaimana menempel kertas di atas gambar dengan tehnik mozaik, aku bersama adik-adik kecil duduk melingkar. Karena bulan ini temanya ‘Tanah Airku’, aku pun menggambar bendera Indonesia, Bendera Merah Putih di buku gambar masing –masing anak. Lalu mereka memenuhi permukaan gambar tersebut dengan robekkan kertas kecil-kecil yang sudah di olesi lem. Kertas warna merah untuk bagian atas, dan kertas putih untuk bagian bawah. Tampaknya, mereka sangat bersemangat mengerjakan mozaik ini. Hingga aku tak perlu berlama-lama mengajari mereka. Mereka, bocah-bocah imut berusia 4-5 tahun ternyata bisa mengerjakannya sendiri dengan baik dan serius. Dengan terampil jari-jari merekapun menempeli kertas demi kertas dengan riang gembira. Bangganya !! J

Ditengah-tengah kesibukan kami, tiba-tiba Alya memanggil namaku,
“Bu Gulu, hape-nya bunyi !“ suara cadelnya membuyarkan konsentrasiku.
Tanpa disuruh, dengan sigapnya bocah manis berpipi tembem itu pun mengambil hapeku yang berada diatas meja kantor.
“ini bu gulu…” Tuturnya halus sembari menyerahkan hape itu.
“Subhanallah, pinter sekali ! Terimakasih ya anak manis !” sambutku tak kalah halus.
“sama-sama bu gulu cantik…” balas Alya sambil memamerkan gigi-giginya yang gupis. Bocah manis ini memang selalu membuatku gemas. Hehhmmmm..

Oh, ada sms masuk. Dari mbak Erlina ?! dengan penasaran aku buka sms itu..
“ Aidaaaaaaaa…. Nama qt da di ya2san beasiswa….”  
Hah, benarkah? Untuk meyakinkan, aku baca sms singkat yang tampak girang itu sekali lagi dengan seksama. Benar, aku tak salah baca.. Alhamdulillaah, pengajuanku diterima.. !!! Tiba-tiba, sms sederhana itu seakan menjadi infuse yang kembali menyegarkan tubuhku yang sejak kemarin seakan kehabisan cairan.
Ya Allah, Subhanallah wal hamdulillah….. terimakasih yaa Allah atas kabar gembira ini. Pengajuan beasiswaku diterima. Kau kembalikan semangat hamba dengan kejutan ini, Engkau sungguh luar biasa….. Ya Allah, terima kasih !

Betapa bahagianya aku. Sungguh hatiku girang, senang bukan kepalang. Perjuanganku tidak sia-sia, pengorbananku dibayar oleh Allah dengan kabar baik ini… Alhamdulillah.. kalimat syukur ini terus menggema di dadaku. Saking bahagianya, aku sampai memeluk dan menciumi murid-murid kecilku. Hingga mereka terbengong-bengong melihat tingkah anehku. Mungkin dalam benak mereka masing-masing saling bertanya-tanya. Ada apa dengan guruku yang baik hati ini…? Hehe… Tapi, aku tetap menciumi kepala mereka satu persatu tanpa menghiraukan kebingungan mereka. Salah satu diantara mereka, Haikal namanya, kemudian bertanya dengan bingung “Ada apa Bu Aida ?” “Tidak ada apa-apa. Ibu sayang kalian..” jawabanku semakin membuat mereka terbingung-bingung…

Bel istirahat berbunyi. Memberi aku kesempatan untuk membalas sms dari Mbak Erlina.
“ Alhamdulillahi robbil ‘alamiin !… trus kapan mbak qt ambil formulirnya?” tanyaku penuh antusias.
“besok ja da, tp aq coba minta izn dlu sama boz…”
“y udh mbak, insyaa Allah bsok yaa…”

Keesokan harinya, aku izin dari mengajar untuk mengambil formulir di Balai Kota Jakarta. Karena mbak Erlina tidak bisa izin, akhirnya aku ditemani ibuku tercinta kesana. Sesampainya disana, kantor Balai Kota tampak sudah dipadati oleh para pelajar yang namanya juga disebutkan sebagai penerima beasiswa. Dari pelajar tingkat SD, SMP, SMA sampai Mahasiswa semua berkerumun disana untuk mengambil formulir. Satu persatu dari mereka bertanda tangan kemudian menerima lembaran formulir. Tiba saatnya aku yang bertanda tangan sebagai bukti pengambilan formulir. Setelah bertanda tangan, pak Syafi’I memberi selamat kepadaku dan menerangkan dengan singkat teknik pengisian dan pengembalian formulir itu.

Setelah keluar dari ruangan, aku tersenyum lega.  Lembaran formulir itu benar-benar membuat hatiku bahagia. Sebuah kebahagiaan yang sulit untukku lukiskan. Bagiku, beasiswa ini sangatlah berarti. Karena beasiswa inilah yang akan membantuku melunasi tunggakan-tunggakan biaya kuliah yang sudah menggunung seabreg dan selama ini belum bisa ku cicil. Tentu ini akan menambah semangatku dalam menimba ilmu di kampus tercinta, kampus STAI Imam Syafi’I Jakarta.

Kebahagiaan yang sama ternyata juga dirasakan oleh mbak Erlina. Ia yang belakangan ini vacuum dari kuliah, mulai merintis semangatnya lagi. Semoga, semangat yang ia dapat kali ini tidak akan luntur lagi. Karena bagaimanapun, selalu ada jalan ketika kita bersemangat dalam meraih sesuatu. Walau ditengah perjalanan nanti, akan ada rintangan dan masalah yang menantang dan menguji kesabaran, namun, semangat itulah yang akan selalu menguatkan. Di tambah dengan iman yang akan menjaga kita dari keterpurukan. Harapanku, dan harapan kita semua ( SahabaT ImAm Syafi’I_STAI ) semoga mbak Erlina dan sahabat kami yang masih belum aktif, bisa semangat dan aktif kembali dalam mengikuti perkuliahan seperti dulu. Aamiin …

Mengenang kebahagiaan ini, aku teringat tentang sebuah perjuangan cukup panjang ketika kami berusaha mengajukan beasiswa, sampai akhirnya kami berhasil mendapatkannya. Sekadar flashback yaa !!! ini dia cerita kami…

Waktu itu, sekitar bulan Juli ketika kami masih duduk di semester dua, Kak Sholeh menawarkan sebuah brosur beasiswa dari Yayasan Beasiswa Jakarta. Dari brosur itu dapat kami ketahui bahwa persyaratan untuk mendapatkan beasiswa tersebut ialah sebagai berikut :

Persyaratan Umum :
-          Mengajukan surat permohonan yang di tujukan kepada ketua umum Yayasan Beasiswa Jakarta, dengan melampirkan kartu keluarga dan kartu mahasiswa
-          Bertempat tinggal di DKI Jakarta minimal tiga tahun dan bersekolah/kuliah di Jakarta
-          Berkelakuan baik, rajin dan jujur, tidak terlibat penggunaan narkoba dan obat terlarang serta tidak mengikuti program sebagai penerima beasiswa dan lembaga/instansi lain.
-          Surat keterangan tidak mampu
-          Surat persetujuan orang tua
-          Surat pernyataan tertulis dari siswa untuk mematuhi semua peraturan yang ditetapkan

Persyaratan khusus :
-          Usia maksimal 25 tahun
-          Memiliki Index Prestasi Komulatif ( IPK ) minimal 2,8 untuk mata pelajaran social, dan IPK minimal 3,0 untuk mata pelajaran exsact.
-          Melampirkan surat keterangan belum menikah

Setelah membaca persyaratan itu, tampak sedikit sekali yang berminat untuk mengajukan beasiswa tersebut. Mengingat banyak diantara kami yang merasa tidak bisa memenuhi persyaratan itu, seperti : Fitri yang belum mempunyai KTP DKI, Babay yang sudah menikah, pak Aiman yang umurnya sudah diatas batas maksimal ( Hehe, nyuwun pangapuntene pak Aiman… J ), Susan yang tidak ada waktu untuk mondar-mandir ke RT, RW, kelurahan, kecamatan karena sibuk bekerja. Dan masih banyak sahabat yang lain yang saat itu tidak mengajukan, karena telah menerima beasiswa dari instansi lain. Mungkin itu semua menjadi kendala. Namun, aku dan mbak Erlina begitu antusias untuk bisa mendapatkan beasiswa ini. Kami bersemangat dan yakin bisa berusaha memperoleh beasiswa ini. Setelah merasa yakin, dengan Bismillah kami berdua pun bertekad untuk bersama-sama memenuhi berkas-berkas yang  menjadi persyaratan itu.

Langkah pertama yang kami lakukan ialah membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Surat Keterangan Belum Menikah (SKBM), dan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Untuk membuat itu semua, kami harus mendatangi ketua RT dan RW untuk meminta Surat Pengantar. Tentu tidak mudah, karena pak RT dan pak RW ini sangat susah ditemui. Terkadang aku harus menunggu berjam-jam, namun tak kunjung datang. Akupun terpaksa pulang dengan tangan hampa dan esok kembali menunggu lagi.

Langkah selanjutnya ialah membuat SKTM, SKBM, dan SKCK di kelurahan. Setelah mendapat Surat Pengantar, esoknya kami meluncur kekelurahan dengan membawa Surat Pengantar disertai fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan fotokopi KTP orang tua. Dalam proses ini kami juga menemui kendala, yakni KK kami belum ditandatangani oleh Lurah setempat. Hal itu membuat petugas kelurahan enggan meladeni kami.
“ Ini sudah menjadi peraturan, setiap KK harus ditandatangani oleh Lurah. Kalau tidak ada, ya berarti KK ini palsu dan tidak berlaku…” bantah seorang petugas berkumis tebal.
“ Tapi Pak, KK ini asli, hanya saja saat pembuatan KK, pak Lurah tidak ada ditempat. Tolonglah Pak, kami sangat butuh surat keterangan itu untuk keperluan kuliah kami ?” jawabku penuh iba.
“ Pokoknya, kalian urus dulu KK itu sampai ada tanda tangannya pak Lurah yang asli, tidak boleh atas nama. Baru akan saya buatkan…” tukasnya, tak mau tahu.

Mendengar jawaban itu, kami berdua saling berpandangan dan akhirnya bergegas mencari tanda tangan pak Lurah. Namun, setelah menelusuri setiap sudut dan bertanya sana sini, ternyata pak Lurah sedang tidak ada di tempat. Entah apa alasannya. Yang jelas kami agak kecewa, kenapa setiap kali di butuhkan, beliau tidak ada ditempat. Apa sebenarnya tugas seorang Lurah ? bukankah melayani masyarakat ? apa harus selalu sibuk dengan urusan diluar ??? maafkan kami…

Untuk kedua kalinya, kami kembali memohon kepada petugas kelurahan agar membuatkan kami SKTM dan SKMB hari ini juga. Karena, bagi kami yang memiliki tanggung jawab untuk bekerja, hanya memiliki waktu hari ini. Izin satu haripun rasanya sangat berat dan butuh perjuangan ketika menghadap Kepala Sekolah tempat aku mengajar. Kami tidak mungkin izin lagi. Namun, petugas itu tidak mau tahu apapun alasan kami, dia tetap kukuh tidak mau membuatkan, sebelum KK kami ditandatangani pak Lurah. Kami terus merengek dan berjanji setelah ini akan meminta tanda tangannya. Tapi, sama sekali tak digubrisnya.
Gleeg… kami hanya bisa menelan ludah. Sebegitu pentingnyakah tanda tangan seorang Lurah ? sebegitu berartinyakah tanda tangannya. Hingga KK kami dianggap tak berlaku tanpa tanda tangan itu? Sampai-sampai permohonan kami tak berarti apa-apa tanpa tanda tangan itu ?

“Nggak apa-apa Da. Inilah perjuangan ! kita harus semangat. Besok kita kesini lagi minta tanda tangan itu.. Semoga pak Lurahnya ada ! “ kata-kata mbak Erlina menularkan semangat kepadaku. Aku mengangguk mantap.

Besoknya, kami meminta izin lagi. Meski berat namun kami tetap harus izin. Dan karena keyakinan dan keoptimisan kami, hari ini pun menjadi hari yang lebih baik dari kemarin. Pak Lurah ada, SKTM, SKBM, dan pun selesai dibuat. Sejurus kemudian kami menuju Polsek Penjaringan untuk membuat SKCK dan dilanjutkan meluncur ke Kecamatan untuk meminta tanda tangan pak Camat. Walau melelahkan, namun kami bahagia karena hari ini semua urusan berjalan mulus. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin..

Perjalanan kami tidak berhenti sampai disitu. Masih ada beberapa berkas yang harus kami penuhi dan tak kalah pentingnya, yakni Transkip Nilai, Surat Keterangan berkelakuan baik dari pihak kampus, Keterangan sedang aktif kuliah di STAI-Imam Syafi’I Jakarta, dan keterangan tidak sedang menerima beasiswa dari instansi lain. Namun, karena saat itu perkuliahan sedang libur bulan Ramadhan, maka sudah dipastikan para dosen tidak hadir di kampus. Untunglah, dosen kami, Bapak Hasan Luthfy Attamimy, M.A selaku ketua jurusan PAI dibantu dengan putranya, Kak Obby, bersedia dengan setulus  hati membantu kami membuat semua berkas tersebut. Dalam hitungan hari, semua berkas tersebut selesai dibuat dengan baik. Alhamdulillahi robbil ‘alamiiin...
Pak Luthfy dan Kak Obby, kami ucapkan Jazakumullah khairan khairul jazaa. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan kalian dengan balasan yang jauh lebih baik. Aamiin yaa Mujibbatsaailiin…

Yak, semua persyaratan lengkap dan beress ! kami siap mengantarkannya ke Balkot (Balai Kota Jakarta). Namun, lagi lagi tentang perjuangan. Dalam keadaan berpuasa, ditengah terik mentari yang begitu panas membakar kulit, kami berjuang menemukan alamat Balkot itu. Maklumlah, biarpun sudah lama di Jakarta, kami tetap seorang anak daerah yang tak tahu jalan karena jarang sekali keluar. Akibatnya, “nyasar” menjadi sesuatu yang tak bisa terhindarkan. Apalagi ketika kami bertanya kepada seseorang yang tak dikenal, kami justru mendapat alamat palsu, (tapi kami kan bukan Ayu ting-ting , hehee…) Namun pada akhirnya, kami bisa melewati ini semua dan bisa kembali pulang dengan hati puas lagi yakin diterimanya pengajuan ini. Tinggallah kami menunggu pengumuman dengan berserah diri kepada Allah dan berdoa. Hamba tahu, Engkau Maha Melihat perjuangan kami Ya Allah !
Demikianlah pengalaman kami kawan…

Sampai saat ini, kami selalu tertawa terpingkal-pingkal ketika kami mengingat pengalaman nyasar ini. Dan bertambahlah rasa syukur kami ketika kami mengingat hasil dari perjuangan ini. Sungguhlah manis, kawan…
Semoga, pengalaman ini mampu menguatkan keyakinan kita tentang janji Allah bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan apa yang menjadi harapannya. Kami telah membuktikan, ketika kami bersungguh-sungguh meraih beasiswa dengan segenap usaha, doa, keyakinan,  dan pantang menyerah, akhirnya dengan seizin Allah, kamipun mendapatkannya.  Kami bisa, kalian pun pasti bisa !!!