Hikmah Hari Ini :

"Kaya yang Sebenarnya Adalah Ketenangan Jiwa"

Senin, 07 Mei 2012

Bintang Untuk Ibu

Terang bintang sinari malam..
Hilangkan kabut gelap yang bersemayam..
Hiasi indah pekatnya malam..
Tuk temani sepi sang rembulan..

Biarkan diri tenang dalam lelap..
Dan tenggelam dalam mimpi indah..
Terhapus semua kenangan dalam lelah..
Tertatih bahagia menyusup di hati..
Bahagia pun tak pernah berhenti..
Tuk pupuskan semua beban ini.. 

Pukul delapan malam, cuaca diluar masih terasa begitu bersahabat.  Seperti biasa, usai belajar bersama, aku dan Hawa beristirahat sejenak dengan duduk diteras depan. Kami selalu menikmati keindahan malam terlebih dahulu sebelum kami beranjak tidur. Sambil sesekali menguap, Hawa tampak tersenyum-senyum memandang kearah langit. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Namun, malam ini memang langit tampak begitu terang bersama hiasan jutaan bintang yang bertaburan. Mata kami benar-benar dimanjakan oleh keindahan panorama langit dimalam ini. Udara sejuk pun berhembus-hembusan membelai jilbab  kami silih berganti. Sejuk dan bersemilir…

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang.” (Fushshilat: 37)
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (al-Anbiyaa: 33)
Subhanallah, ampunkanlah kami semua, Yaa Allah, para hamba-Mu yang kadang tak pandai mengambil I’tibar dan dan pelajaran serta bukti nyata dari seluruh bentuk ke-Mahabesaran dan Kuasa-Mu. Kami terlalu sibuk dengan urusan duniawi kami, hingga kami lalai dan menganggap ini semua terlalu biasa-biasa saja dimata kami.. Astaghfirullah ‘adziim..
Aku kembali melirik Hawa. Ia tampak semakin takjub dan tenggelam dalam keindahan lukisan malam ini. Matanya tak mau berkedip sejenak pun dari memandang bintang-bintang dan rembulan yang sama indahnya. Aku mendekati Hawa lalu mendekapnya erat-erat.

“Kita harus seperti bintang, Dek. Jangan seperti bulan.. !” bisikku kepada Hawa berusaha memecah kesunyian.

“Kenapa Mbak?” Hawa menyerngitkan dahi dan menatapku heran. “Bukankah cahaya bulan lebih terang dari pada bintang? Bintang hanya berkelip-kelip. Ukurannyapun kecil. Tapi bulan.. lihat tuh Mbak, bulat, besar, indah dan terang..” protes Hawa.

“Hmm, ya sekilas memang tampak begitu, tapi tahu tidak Dek? Sinar bulan itu bukanlah sinar yang datang dari bulan itu sendiri. Tapi dia mendapatkan sinar itu dari benda langit yang lain, yakni pantulan  sinar matahari yang dipantulkan ketika matahari bersinar di siang hari. Sedangkan bintang.. sinarnya itu adalah sinar yang terpancar dari dirinya sendri, bukan berasal dari sokongan benda langit lainnya..”
“Oya?? Berarti sebenarnya bintang itu lebih indah dari pada bulan ya Mbak !
“Iya.. tapi banyak diantara kita yang menganggapnya tidak demikian.”
“Apa kita bisa bersinar seperti bintang itu mbak?”
“Tentu dek. Kenapa tidak? Kita tentu bisa bersinar dari dalam diri kita sendiri seperti bintang itu.”
“Tapi mbak…...”
grngggggrrrrrnggnngg..
Belum sempat melanjutkan, tiba-tiba pertanyaan Hawa terpotong dengan sebuah suara yang terdengar begitu bising di telinga kami. Seseorang dengan bersepeda motor  Mega Pro, melintas dihadapan kami dan memarkirkan sepeda motornya dua meter dari teras tempat kami duduk. Setelah membuka helm dan mengunci motornya, laki-laki separuh baya itu menghampiri kami.
“Permisi Mbak, Maaf. Apa betul ini rumahnya Mbak Wardah Khoirunnisa?”
Aku terperanjat, laki-laki itu menyebut namaku. Ada apa gerangan? Gumamku dalam hati. Hawa yang tak kalah bingungnya pun hanya bisa bersembunyi di balik punggungku.
“Ya, ini saya sendiri orangnya. Ada apa ya pak?” Walaupun ragu dan cemas, aku berusaha menjawabnya dengan tetap berusaha tenang.
“Maaf sebelumnya Mbak, saya Rohmat dari Tangerang. Mungkin mbak memang belum pernah mengenal saya, tapi pasti mbak kenal ‘kan sama Pak Roni? Saya teman dekatnya yang ingin membantu menyampaikan amanatnya kepada mbak Nisa ini” katanya begitu serius.
Aku semakin terperanjat mendengar nama yang baru saja disebutkan. Nama itu memang tak asing lagi bagiku, namun entah kenapa mendengar nama itu membuat telingaku terasa sakit, terlebih hatiku. Begitu nyeri tiap kali nama itu disebutkan.
Setelah mempersilahkan duduk di kursi tamu, aku meminta Hawa untuk memanggil ibu sekaligus membuatkan air minum. Sejurus kemudian ibu datang dengan tergopoh-gopoh disusul dengan Hawa yang ditangannya membawa secangkir teh. Ibu duduk disampingku lalu menggegam tanganku erat-erat. Sepertinya beliau juga merasakan kekhawatiran dan kecemasan yang sama aku rasakan. Hawa masuk keruangan dan hanya bisa mengintip pembicaraan kami dari balik pintu. Setelah mempersilahkan minum, akhirnya ibu membuka pertanyaan.
“Maaf Pak, sebenarnya anda ini siapa, dari mana, dan ada perlu apa malam-malam begini kerumah kami?”
“Iya, tadi saya sempat memperkenalkan diri kepada mbak ini, bahwa nama saya Rohmat. Saya dari Tanggerang bermaksud ingin mengabari ibu sekeluarga bahwa pak Roni sedang sakit parah…..”
“Tunggu sebentar pak, Maaf saya potong, yang bapak maksud pak Roni itu siapa ya?” Tanya ibuku memotong kalimat pak Rohmat begitu mendengar nama pak Roni.
“Sebelumnya saya mohon maaf bu, karena kedatangan saya ada kaitannya dengan pak Roni.. tapi saya yakin ibu sekeluarga sangat mengenal pak Roni dan tak perlu saya jelaskan siapa dia. Saya hanya ingin menyampaikan amanat dari pak Roni yang sekarang sedang sakit bahwa dia ingin sekali bertemu dengan kedua putrinya. Wardah Khoirunnisa dan Hawa Sakinah.”
Mendengar penjelasan itu, aku tertunduk pilu dan segera menyadari bahwa yang sedang dibicarakan pak Rohmat ini adalah ayahku. Ya, pak Roni itulah ayahku. Orang yang selama ini kurindukan. Orang yang selama bertahun-tahun kuharapkan. Orang yang sekian lama kunantikan kedatangannya. Dan seorang ayah yang tak pernah ku tahui dimana rimbanya. Padahal kami sangat menginginkan kehadirannya sebagai seorang ayah yang menjadi panutan bagi keluarga. Kami merasa dahaga akan kasih sayangnya. Kami rindu akan teguran, nasihat, dan petuah-petuahnya. Dan sejatinya kami sangat membutuhkan kehadirannya sejak lima belas tahun yang lalu.. Namun, mengapa kini beliau hanya bisa mengabarkan kepada kami bahwa ia sakit dan mengharapkan kedatangan kami. Kemana saja dia selama ini ya Allah…
Mengenang semua ini, perasaanku begitu tersayat. Mataku panas, namun hatiku sudah basah oleh air mata. Aku hanya bisa menangis didalam hati teringat semua penderitaan yang telah kami lalui dulu. Betapa beratnya beban seorang ibu yang harus merawat dan membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran seorang suami di sisinya. Ibuku harus berjuang mati-matian dalam melakoni tugasnya mendidik, merawat, menjaga, dan membesarkan kami, anak-anaknya. Namun, disaat yang sama ia pun harus bekerja ekstra keras agar berhasil menghidupi dan menafkahi kami. Aku yakin, semua itu tidak mudah untuk ibu lalui. Dan bagi kami pula, sungguh bukan perkara gampang  melewati hari-hari tanpa iringan kaki sang ayah disaat kami mulai tumbuh dan berkembang.
Kabar ini sungguh membuat hatiku tak terbentuk lagi. Seperti luka lama yang sudah mengering dan perlahan sembuh, tiba-tiba disiram lagi dengan berliter-liter cairan spiritus. Perih, pedih, tak terperi lagi. Tapi, bagaimana dengan ibuku. Bagaimana perasaannya. Sehancur hati ini kah?? Atau bahkan biasa-biasa saja?? Ya.. Ia masih sanggup tersenyum dan tampak begitu tenang. Apakah hatinya setenang itu. Apakah luka itu telah sirna dan tak berbekas lagi..?
“Sakit apa dia pak?” Tanya ibuku.
“Dia terkena diabetes bu”
“Sekarang dirawat?”
“Tidak.. hanya beberapa hari saja dirawat. Sekarang hanya bisa terbaring dirumah karena kekurangan biaya. Apakah ibu mengizinkan putrid-putri ibu menjenguk ayahnya? Tanya pak Rohmat lagi.
Ibu menoleh kearahku dan bertanya, “kamu bersedia menjenguk ayahmu, Nis?” Pertanyaan ibu membuyarkan lamunanku. Namun aku hanya bisa terdiam, rasanya butuh waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Tak mudah rasanya mendatangi orang yang sekian lama meninggalkan kami dalam kesia-sian, tiba-tiba memaksa kami kesana.
“Saya mengerti perasaanmu Nisa.. tapi tolonglah, jenguk ayahmu walau sebentar. Saya khawatir inilah saat-saat terakhir dia melihat anak-anak yang sudah lama ditinggalkannya. Barang kali kedatangan kalian akan menjadi obat bagi penyakitnya.. ” imbuh pak Rohmat berusaha membujuk.
Aku tetap diam. Tapi sungguh, hati ini ingin berontak. Kenapa dulu dia menyia-nyiakan kami ketika  masih merasa gagah dan kuat. Dan kenapa tanpa merasa berdosa dia menyuruh kami menemuinya ketika ia sudah tak lagi berdaya. Dimana perasaanmu ayah..??
Seharusnya ibukulah yang paling merasa sakit atas semua ini, tapi ibu sangat pandai menyembunyikan perasaan sakitnya dan selalu bisa mengerti perasaanku, hingga dia tahu apa yang mesti ia katakan. “Mohon maaf, pak. Insya Allah saya izinkan. Tapi sepertinya tidak bisa malam ini juga. Lagi pula malam sudah cukup larut. Mungkin besok atau lusa anak-anak saya akan kesana, insya Allah..”
“Baiklah, kalau begitu saya tinggalkan alamatnya, dan ini nomor telepon saya kalau ada apa-apa. Tapi, sekali lagi saya mohon, jenguklah dia. Karena sampai kapanpun dia tetap ayah dari anak-anak ibu. Iya kan Bu?” ibu hanya membalasnya dengan senyum dan mempersilahkannya pamit. Entah apa arti dari senyum itu…

“Allah telah menunjukan ke-Mahaadilan-Nya pada kita sayang…” Lirih ibu berusaha menenangkan hatiku. “Bersyukurlah karena Allah masih menyelamatkan kita dari kejamnya ujian yang pernah kita lalui. Jangan sekalipun kita menyesali apa-apa yang telah menimpa kita. Tapi kembalikan semuanya hanya kepada Allah. Karena akhirnya janji Allahpun datang disaat yang tepat… iya kan, Nisa?” Aku mengerti maksud ibu dan hanya bisa mengangguk pelan. Kata-kata itu begitu menyejukkan hati. Antara sedih dan bahagia pun mewarnai perasaanku. Perlahan hatiku lega melihat senyuman manis yang terbit dari wajah ibuku, Subhanallah…
Sebening tetesan embun, secerah cahaya mentari dan bintang..
Bila kutatap wajahmu, Ibu..
Ada kehangatan yang menyelusup lembut kedalam hatiku..

Kami masuk menemui Hawa. Kulihat wajahnya yang tadi cerah dan berbinar kini telah berubah menjadi kusut dan layu. Diatas kasur tipis tempat tidur kami satu-satunya, kami berpelukan, berusaha menguatkan satu sama lain.
“Besok kalian jenguk ayah ya !” pinta ibu sambil mengelus lembut kepala kami.
“Apa Bu, jenguk ayah? Nggak ! Hawa nggak mau. Dan tepatnya Hawa nggak sudi. memangnya selama ini Hawa punya ayah..?!” gerutu Hawa dengan nada tinggi.
“Sstt, ibu mohon nak, jangan pernah berkata seperti itu. Ibu tidak pernah mengajarkan kalian untuk durhaka kepada orang tua..”
“Apa ibu lupa, dia sudah meninggalkan kita bu, dia sudah menyakiti dan menyia-nyiakan kita. Dia nggak pantas dipanggil ayah. Pokoknya sampai kapanpun Hawa nggak sudi menjenguknya. Kalau kita sampai menjenguknya itu sama saja kita menjatuhkan harga diri kita sendiri..” rutuk Hawa semakin murka.
“Astaghfirullah, istighfar Hawa. Kamu tidak boleh mendurhakainya sekalipun dia telah menyakitimu. Sampai kapanpun dia tetaplah ayahmu yang wajib kamu hormati. Masalah dosa biarlah menjadi urusan ayahmu dengan Allah. Allah yang akan membalas dan memperhitungkannya. Kita sebagai manusia hanya bisa memaafkannya dan tak berhak menghukumnya. Sekarang lihatlah,dia sedang terbaring sakit. Tanyakan pada hati kecilmu, Nak..! Sampai hatikah kamu membiarkan orang yang membuatmu ada di dunia ini tergolek tak berdaya ? Mungkin Allah sedang mengganjar apa yang telah diperbuatnya.. jenguklah dia dengan ketulusan hatimu. Lakukanlah ini untuk Allah, dan untuk ibu. Kalian mau kan?! ” Kata-kata ibu seakan masuk dan merembes kedalam relung hatiku, menghancur leburkan semua dendam dan ego yang sempat bersemayam di dada ini. Terlebih Hawa. Seketika perasaannya mencair dan air matanya pecah dalam pelukkan ibu.
“Apa secepat itu ibu memaafkan kesalahan ayah?” ku paksakan diri ini untuk bertanya. Lagi-lagi ibu hanya tersenyum lalu menjawab dengan ringan. “ Hanya dengan memaafkan, luka-luka yang ada dihati ibu bisa sembuh..” Subhanallah. Bangganya aku miliki orang tua seperti ibu. Sampai kapanpun aku tak akan bairkan diri ini mengecewakannya.
“Baiklah bu, besok aku akan meminta izin kepada kepala sekolah dan langsung mencari alamat ayah..” kataku mencoba memantap-mantapkan hati. Hawa dengan muka kusutpun ikut mengangguk. Anggukan yang mungkin dipaksakan.
Keesokannya, setelah berhasil meminta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar dan dengan meminta restu ibuku, aku dan adikku memberanikan diri mencari alamat ayahku yang kudapat dari pak Rohmat kemarin malam. Demi Engkau Ya Allah, dan karena ibuku, kulangkahkan kaki mungil ini tuk datangi rumah pak Roni. Orang yang sempat membuat hidup kami menderita, namun orang lain menyebutnya, dia ayahku. Semoga Engkau ridhoi derap langkah kami menuju kebaikan dan petunjuk-Mu Yaa Allah...Aamiin.
Pukul 13.00 WIB kami berangkat ke Tanggerang. Dengan menumpangi kopami 84, kulepaskan segala keraguan. Kususuri jalan-jalan yang akan menjadi saksi bisu pertemuanku dengan orang yang entah kurindukan ataukah orang yang kubenci. Kuberharap kini tibalah saatnya Allah tunjukan semua keadilan yang sejak dulu kuimpikan.
Disepanjang jalan, lamunanku melayang kemasa lima belas tahun yang silam. Ketika aku dan adikku melewati masa kecil tanpa kasih sayang dan perhatian seorang ayah. Bahkan melihat wajahnya pun kami tak pernah. Sampai-sampai tak jarang kami mendapat hinaan dan sebutan “anak haram” atau “anak yang tak punya Ayah” dari teman-teman sepermainan. Saat itu, dengan hati yang gaduh aku hanya bisa bertanya kepada ibu, “Anak haram apa sih Bu, apa benar kita gak punya ayah?” Nisa dan Hawa kecil masih sangat polos. ibu pun menjawab dengan mata berkaca-kaca, “Nisa sama Hawa itu anak ibu yang pintar. Kalian bukan anak haram. Kalian punya ayah seperti teman-teman. Tapi ayah sekarang sedang bekerja ditempat yang jauh. Jadi nggak bisa sering-sering pulang..” Hati kami pun kembali tentram mendengar jawaban itu, walaupun belakangan aku tahu, jawaban itu tak sepenuhnya benar. Ayah bukan pergi untuk bekerja menghidupi kami.
Sangat sakit memang hidup dimasa kecil tanpa hadirnya seorang ayah. Setiap tindakan dianggap salah sekalipun itu benar. Tak jarang Nisa kecil dimaki-maki karena tak ada yang membela tiap kali bertengkar dengan sesama teman yang memang usil. Bahkan aku pernah di fitnah dan menjadi kambing hitam oleh kenakalan teman-temanku. Sementara ibu-ibu mereka hanya mengolok-olok dan mencibir kami sambil berkata: “Jangan dekati anak-anak nakal itu, nanti ketularan..!” Ibu-ibu yang lain pun menimpali : “Pantas saja masih kecil mereka sudah jadi anak nakal, mereka kan nggak punya ayah!” Astaghfirullah, aku bukan anak nakal, aku nggak mau dipanggil anak nakal. Ya, Aku hanya bisa pasrah dan berusaha untuk tidak menangisi nasib ini. Dulu aku hanya berharap ayah akan segera pulang dan datang menjadi pembelaku.
Ketika aku dan adikku beranjak remaja, ayah datang tanpa disangka-sangka. Aku berharap dengan datangnya ayah masalah yang selama ini menghampiri kami akan segera sirna. Tapi nyatanya penderitaan kami tak berhenti sampai disitu. Sosok ayah yang selalu kami banggai, sebuah senyum dan dekapan kasih sayang yang tak henti-hentinya kami rindukan, serta sosok panutan yang dalam gambaran hati kecil kami ia adalah seorang ayah yang berhati lembut dan bermata teduh, ternyata tak kami dapati dalam dirinya. Dengan fisiknya yang tinggi besar, tulang kekar dan sekuat baja membuat ia seakan berkuasa menyakiti raga ibuku. Sungguh masih segar dalam ingatanku, bagaimana cara ia memperlakukan aku, adikku dan ibuku. Bahkan selama kami hidup bersama ayah, ibu tetap menjadi tulang punggung bagi keluarga. Ayah hanya menikmati pekerjaanya sebagai pengangguran yang terus menyakiti jiwa dan raga ibuku. Masyaa Allah, Sebuah perlakuan keji dan kasar yang tak mudah termaafkan.
Dari seluruh perlakuan kasarnya, ada satu peristiwa yang begitu menyakitkan bagi diriku dan tak mungkin aku lupakan sepanjang masa hidupku. Saat itu, untuk menambah penghasilan, selain menjahit, ibu juga bekerja sebagai tukang cuci yang hampir setiap malam ibu mencuci pakaian milik tetangga. Ketika mencuci, tiba-tiba ibu batuk dan mengeluarkan darah dari tenggorokannya. Ia kesakitan dan membutuhkan pertolongan. Namun, apa yang dilakukan ayah. Ia pergi meninggalkan kami dengan alasan “tak ada uang”. Padahal saat itu bukan uang yang kami permasalahkan. Tapi keselamatan ibulah yang sangat kami khawatirkan. Kami hanya butuh ayah membawa ibu kerumah sakit untuk segera ditolong. Namun, dengan angkuhnya ayah berkata kepada kami, “ Heh, dasar orang miskin, kerjaanya hanya sakit-sakitan saja. Nyusahin orang ! makanya Nisa, kamu nggak usah sekolah. Kerja saja. Cari uang yang banyak biar nggak nyusahin orang. Memang dasr miskin, selamnya pun tetap miskin !”
Glek, kami menelan ludah. Sesak betul rasanya dada kami. Kami hanya bisa tercengang melihat kepergian ayah yang meninggalkan setumpuk keperihan dan goresan luka yang memenuhi dada ini. Kami menangis. Apa salah kami ya Allah..!!

Mengenang kenangan pahit bersama ayah ini, membuat aku lupa bahwa aku akan menemuinya. Sudahlah, tiada cara lain untuk menyembuhkan luka ini selain kata maaf. Ya, memaafkan lebih susah dari pada meminta maaf. Tapi, bukankah memaafkan jauh lebih mulia dibanding meminta maaf?? Satu nasihat ibu yang kuingat hingga detik ini. “Kita patut bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya berupa ayah Roni. Mungkin jika Allah tidak mengirimkan ayah sepertinya, kita akan lalai dan enggan belajar tentang makna kehidupan ini. Kita patut berterimakasih padanya. Telah mengajarkan kita tentang pahitnya perjuangan, hingga kita mampu berhati-hati dalam setiap perbuatan dan akhirnya kita dapatkan kebahagiaan seperti saat ini dan semoga sampai saat nanti..”
Ya, kini aku dan keluarga sederhanaku telah hidup bahagia dalam naungan kasih sayang Allah. Rasanya, semua kepahitan hidup yang dulu kami alami telah dibayar lunas oleh Allah dengan kebahagiaan yang kami kecap saat ini. Dengan seizin Allah, aku bisa buktikan pada ayah, bahwa aku mampu sukses mengejar mimpi-mimpiku tanpa menyusahkan banyak orang. Bahkan bersatunya hati kami dalam menjaga ketaatan kepada Allah menjadi satu kebahagiaan yang tak bisa dibayar dengan apapun jua didunia ini.

Tepat pukul 16.00 WIB, aku sampai di Tanggerang. Dengan bertanya kepada salah seorang tukang ojeg, kami bisa dengan mudah menemukan alamat ayah. Didepan sebuah rumah tua, aku turun dari ojeg. Ku baca berulang-ulang dan kucocokkan alamat yang tertera disamping jendela. Tiba-tiba, pak Rohmat muncul dari dalam rumah itu. Ia mengajak aku dan adikku masuk. Disebuah sudut ruangan, tampak seorang laki-laki tua dan kurus tengah terbaring diatas dipan.
“Ron, lihat itu siapa yang datang..” bisik pak Rohmat tepat ditelingannya. Seketika aku dan adikku terkejut. “Masya Alalh, benarkah itu ayahku??” lirih kami, tak percaya..
 “Nis..saa, Haw..wa.. beb.. benarkah itu kalian, a..anakku???” sambut laki-laki itu dengan suara terbata karena lidanya yang seakan kelu.
Iya, tak salah lagi itu memang benar ayahku. Itu ayahku yang dulu gagah pekasa, kuat dan kekar. Itu ayahku yang dulu menyakiti ibu lalu meninggalkannya..
Iya.. itu ayahku..!!

Hatiku hancur. Tidak hanya remuk tapi sudah menjadi serpihan.  Betapa tak kuasa kusaksikan semua ini. Pedih, sungguh pedih melihat orang yang dirindukan kini menghadapi masa tuanya dalam keadaan tragis. Mataku pun serasa tak kuat lagi menahan bendungan air mata yang sebentar lagi tumpah. Namun, ku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Aku tak mau dia melihatku sebagai wanita cengeng dan lemah seperti dulu. Kini, antara rindu, iba, cinta dan dendam melebur menjadi satu didalam hati ini.
Keadaannya yang begitu memilukan, seakan membabat habis seluruh kebencian yang pernah singgah dihati kami. Sedikitpun aku tak bisa membencinya. Justru dengan penuh ketulusan, kupanjatkan doa untuknya, Robbighfirlii wali wali dayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo..” Ampunilah dosa ibu dan ayahku Yaa Allah..
“Kami sudah memaafkanmu, ayah. Semoga Allah memberikan ampunan dan hidayah-Nya padamu. Ohya, yah. Alhamdulillah, Nisa sudah bisa melanjutkan kuliah dengan keringat Nisa sendiri.  Bahkan Nisa sudah bisa membantu ibu menyekolahkan Hawa. Itu karena mimpi Nisa menjadi guru sudah terwujud. Semua itu berkat kemahabaikan Allah, dan mungkin berkat doa ayah disini untuk kami. Terima kasih ayah, sudah mengajarkan kami banyak hal sebagai bekal untuk menempuh perjalan kami yang masih cukup panjang. Oh, iya. Ini ada sedikit rezeki. Semoga bisa membantu ayah membeli obat…”
Tak terasa air mata ini mengalir begitu derasnya. Ada kebahagiaan yang dulu terpendam sekarang terkuak mengalir bersama aliran air mata ini. Kami berpelukan, tenggelam dalam keharuan luar biasa. Semua yang menyaksikan adegan pilu ini, pak Rohmat dan para tetangga ikut hanyut dan meneteskan air mata.
***



“Apakah kami masih bisa bersinar seperti bintang, Bu?” pertanyaan lirih Hawa membuatku tercengang. Tak percaya Hawa akan bertanya itu lagi.
“ Dengarkan ibu, Nak. Kalian adalah dua bintang yang selalu bersinar terang di hati ibu, yang cahayanya tak pernah redup. Ibu bangga pada kalian, anak-anak sholeh yang selalu menjaga dan merawat ibu dengan tulus. Kalian adalah anugerah dari Allah paling berharga yang pernah ibu miliki…” perlahan air mata itu tumpah. Air mata yang sudah sekian  lama dibendungnya, namun baru kali ini ibu tak kuasa menahan bendungan itu.
“Tahukah anak-anakku…” dalam tangis yang terdengar semakin pilu, ibu melanjutkan.. “ibu bisa bertahan sampai detik ini, itu karena Allah masih menitipkan kalian. Rasanya, tiada lagi yang lebih berharga dari kalian..”
Tesss, cairan bening meluncur dari mataku dan membasahi pipi ini. Betapa beruntungnya aku memiliki seorang ibu yang penuh kasih dan penyabar. Betapa bahagianya aku memiliki seorang ibu yang tegar dan pantang menyerah. Padahal aku tahu, beban yang selama ini ditanggungnya begitu berat dan pelik. Namun, ia jarang meneluhkakannya pada kami. Ia tak  ingin ada yang tahu deritanya. Ia selalu bisa menutupi kesedihan didepan kami, anak-anaknya. Tapi kali ini aku sungguh ingin mendengar tangisnya. Aku ingin sekali mendengar keluh kesah yang selama ini di simpannya dengan rapi.
Menangislah ibu, menangislah… Jika itu yang membuat lukamu sedikit terobati. Jangan takut kami akan menganggapmu lemah karena engkau menangis. Bagi kami, engkau tetaplah wanita tertangguh yang pernah kami miliki…”

Ibu menyeka air matanya  sambil berkata, “Semoga tangis ini menjadi tangis kebahagiaan. Kita harus bahagia karena Allah menyatukan kita..” perlahan wajah ibu mulai mengembangkan senyumnya kembali..
Terima kasih yaa Allah, Engkau telah anugerahi kami ibu yang berhati lembut namun kuat dibalik tubuhnya yang kurus. Beri kami kekuatan untuk selalu bisa merawat, menjaga dan membahagiakannya, yaa Allah..
Duhh, ibu. Kami akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu dimata Allah. Dan kami akan berjuang agar terus bersinar. Seterang bintang untukmu, ibu..

Yuk, sambil kita mengingat kasih sayang ibu, kita bernyanyi-nyanyi kecil lagu ini..!

Kubuka album biru Penuh debu dan usang Ku pandangi semua gambar diri Kecil bersih belum ternoda Pikirkupun melayang Dahulu penuh kasih Teringat semua cerita orang Tentang riwayatku Kata mereka diriku slalu dimanja Kata mereka diriku slalu dtimang Nada nada yang indah Slalu terurai darinya Tangisan nakal dari bibirku Takkan jadi deritanya Tangan halus dan suci Tlah mengangkat diri ini Jiwa raga dan seluruh hidup Rela dia berikan Oh bunda ada dan tiada dirimu Kan slalu ada di dalam hatiku

Minggu, 06 Mei 2012

Mari Mentafakkuri, secuil dari berjuta Lautan Hikmah yang Ada


Assalamu'alaikum Wa rahmatullahi wa barakaatuh..
Sahabat-sahabatku Fillah…

Semoga senantiasa dalam keridhoan Allah dan dari waktu ke waktu selalu mencari kebaikan di jalan lurus-Nya... Aamiin..

Sahabat-sahabat Fillah,
Selamat datang  dan selamat bergabung di blog lautanhikmah-annahl.blogspot.com, blog nya Aida Bintun Nahl, blognya kita semua yang ingin menyelami lautan hikmah di bumi yang Allah ciptakan ini...

Sungguh, bila kita perhatikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, heee (itu mah teks proklamasi..) semua yang Allah ciptakan mengandung hikmah dan pelajaran yang amat berharga bagi kita para manusia ciptaan-Nya... semua yang Allah ciptakan, tidak ada yang sia-sia..
semuanya mengandung perumpamaan-perumpamaan yang maknanya luar biasa.. Walaupun hnya dengan seekor lalat atau yang lebih kecil dari itu.. (QS. Al-Baqoroh:26)

Tak percaya? Coba saja buka Al-Qur’an, baca ayatnya, selami artinya, dan resapi maknanya, niscaya kau akan temukan jawabannya disana.. hemmm..

Tapi aku kesulitan nih nemuin ayat-ayat itu…

Oke oke, baiklah… aku akan kutip beberapa ayat Al-qur’an yang membicarakan tentang pentingnya menyelami hikmah-hikmah yang Allah ciptakan. Simak baik-baik  firman Allah di bawah ini yaa..^^

Ada sebuah ayat tentang semut,

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari’.” (An-Naml [27]: 18)

Apa yang kita dapatkan dari ayat di atas.. tentu banyak bukan? Itu salah satu keajaiban Alquran. Alquran bisa di pelajari oleh semua orang dan bisa di ambil pelajaran dari berbagai sisi.

Bagi pemula belajar Al- Quran  bisa belajar tajwid dan makharijul hurufnya. , Para sejarah bisa mempelajari  sejarah tentang kerajaan Sulaiman as, dan beliau bisa memahami bahasa binatang salah satunya adalah semut. Ahli biologi, bisa mempelajari tentang “ semut” , dan para tata bahasa, para sastra, fisika, matematikawan  , para pedagang, dll (pokoknya semuanya dech) dan aku tak tau ilmu apa yang bisa ku ambil..hehe :-D .. pastinya semua orang bisa mengambil pelajaran dari satu ayat di atas. Artinya tak ada alasan buat kita, untuk tidak belajar tentang Alquran.

Dan ayat di atas hanyalah ilmu dasar yang memancing kita untuk lebih tau konsep- konsep yang lebih mendalam,  sesuai dengan bidang yang  kita kita pelajari masing- masing.

Ayat ini juga mengisyaratkan; bahwa semut punya bahasa, punya komunikasi buat sesama mereka. dan banyak para ilmuwan yang dapat menangkap bahasa semut.  
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon.  Semut adalah salah satu makhluq Allah yang cukup kecil di muka bumi.

Meskipun tubuh semut relatif kecil, semut adalah makhluq terkuat yang kedua dimuka bumi ini. Semut mampu mengangkat berat sepuluh kali dari berat tubuhnya, dibandingkan gajah yang hanya mampu mengangkat dua kali lipat berat badannya. Bicara tentang dunia semut, tak kan ada habis nya, dan juga memang diri ini tak punya ilmu tentang dunia semut.

Ayat di atas juga mengisyaratkan, bahwa semut begitu peduli terhadap sesamanya.  Semut memiliki ketajaman indera dan sikapnya yang sangat hati- hati, terutama terhadap bahaya.  Semut mempunyai etos kerja yang tinggi , kesabaran dan kekompakan.

Ayat-ayat Allah di alam semesta diantaranya ditegaskan juga dalam surat An-Nahl ayat 10-17:

10) Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. 

11) Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. 

12) Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), 

13) dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. 

14) Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. 

15) Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, 

16) dan Dia ciptakan) tanda-tanda (penujuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. 

17) Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Di dalam Al-Qur'an, Allah mengajak orang-orang yang berakal agar memikirkan hal-hal yang biasa diabaikan orang lain, atau yang biasa dikatakan sebagai hasil "evolusi", "kebetulan", atau "keajaiban alam" belaka. Dengan firman-Nya yang berbunyi :


"Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imraan, 3:191)

"Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Rabbmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Nahl, 27:93)

Subhanallah, menyimak ayat-ayat-Nya yang agung, terasa begitu sejuk mengalir lembut di hati ni….
Sebagaimana kita lihat dalam ayat tersebut, orang-orang yang berakal melihat ayat-ayat Allah dan berusaha untuk memahami ilmu, kekuasaan dan kreasi seni-Nya yang tak terhingga dengan mengingat dan merenungkan hal-hal tersebut, sebab ilmu Allah tak terbatas, dan ciptaan-Nya sempurna tanpa cacat….

Bagi orang yang berakal, segala sesuatu di sekeliling mereka adalah tanda-tanda Kekuasaan dan kebesaran  Allah Subhanahu wa Ta’alaa…
Tujuan utama dan pertama kita membaca ayat-ayat Allah adalah agar kita semakin mengenal Allah (ma’rifatullah). Dan ketika kita telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis kita akan semakin takut, semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa kita telah membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala…
Selanjutnya, kita juga membaca ayat-ayat Allah agar kita memahami sunnah-sunnah Allah (sunnatullah), baik itu sunnah Allah pada manusia dalam bentuk ketentuan syar’i (taqdir syar’i) maupun sunnah Allah pada ciptaan-Nya dalam bentuk ketentuan penciptaan (taqdir kauni).,,
Dengan memahami ketentuan syar’i, kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat yang ia kehendaki, dan dalam hal ini kita bebas untuk memilih untuk taat atau ingkar. Namun, apapun pilihan kita, taat atau ingkar, memiliki konsekuensinya masing-masing.
Adapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan ihwal manusia, kita akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai ketentuan tersebut, kita akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Baiklah sahabat-sahabat Fillah…
Intinya, kita sebagai manusia dan hamba-Nya yang beriman, berkewajiban untuk dapat melihat ciptaan dan ayat-ayat Allah. Dengan demikian kita akan mengenal Sang Pencipta yang menciptakan kita dan segala sesuatu yang lain, menjadi lebih dekat kepada-Nya, menemukan arti keberadaan dan kehidupannya, dan menjadi orang yang beruntung ( di dunia dan di akhirat).
Aamiin Yaa Robbal'alamiin..

OK. Sahabat-sahabat Fillah..
Selamat berbagi ilmu, kisah dan inspirasi.
semoga dapat mempererat jalinan silaturrahmi dan keimanan diantara kita semua, bersama ridho-Nya. ^_^

Pertemuan Dua Sahabat


Setelah merasa penat, Nurida men-shutdown laptopnya. Ia mengatupkan matanya yang mulai sayu lalu menarik napasnya dalam-dalam. Ia kaget mendengar suara dering hp-nya, ada sms masuk…
 “ benar mba , aku merasa sangat malu. Hanya krna hal sprt ini aku mjdi lemah.. mba memang dwasa, lain dgn aku yang sll kalah dg pikirn negative… trmkasih byk ya mbak untuk obrolannya hri in..obrolan yang sgt mnfaaat..J ”

Sms itu dari Ningsih, gadis cantik yang baru di kenalnya lewat facebook beberapa minggu lalu. Ningsih bilang, ia sangat mengagumi sosok Nurida dan ingin menjadi temannya. Selain itu, ia juga ingin belajar banyak darinya. Nurida pun menyambuat gembira niat tulus Ningsih yang ingin berteman dengannya, tapi sebenarnya ia merasa sangat tidak pantas dikagumi apalagi untuk  belajar dari dirinya.

Nurida teringat, siang tadi, saat ia mengajar TPA di rumahnya, seorang gadis cantik berjilbab ungu datang menghampirinya. Gadis itu mengaku bernama Ningsih. Nurida kaget, ternyata Ningsih menepati janjinya beberapa hari yang lalu untuk datang kerumahnya. Ia menjabat tangan Nurida lalu memeluknya erat-erat. Nurida pun tercengang melihat ulah Ningsih yang terlihat begitu akrab, padahal mereka baru saling mengenal. Itu pun melalui dunia maya. Tapi, Nurida membiarkan gadis itu memeluknya. Beberapa saat kemudian Ningsih melepaskan pelukannya, matanya tampak berkaca-kaca, ia hendak berkata-kata…

“Kamu Ningsih Lailasari kan ?” tanya Nurida pelan. Gadis itu hanya mengangguk. “ Subhanallah, dari mana kamu tau rumahku Ning?“ Tanya Nurida lagi. Ningsih jawab dengan senyum lalu berkata, “boleh aku  bicara mbak?” “ tentu boleh, ayok silahkan masuk dulu. Kita ngobrol didalam saja ya..” jawab Nurida ramah, ia tahu pasti Ningsih sangat lelah. “ kamu duduk saja disini, aku akan membubarkan santri-santri dulu” kata Nurida sambil mempersilahkan Ningsih duduk di ruang tamu. “ maaf ya mbak jadi mengganggu dan merepotkan” ucap Ningsih merasa tidak enak. “sama sekali tidak..”

Beberapa menit kemudian, Nurida kembali menemui Ningsih sembari membawa secangkir teh manis dan setoples kacang lalu duduk tepat di samping Ningsih. Ningsih kemudian menoleh kearah Nurida dan memandangnya lekat-lekat,  “ mbak sangat cantik..” ucap Ningsih membuka percakapan. “kamu juga Ning, kamu lbih cantik dri yang aku bayangkan”. Jawab Nurida dengan senyum mengembang. “mmm Ning..” Nurida melanjutkan. “ jujur ya, dari pertama kita berkenalan di facebook waktu itu, sampai sekarang aku masih bingung kenapa kamu seperti sudah sangat mengenal dan tahu semua tentang aku, padahal aku belum pernah bercerita apa-apa denganmu..”

“mbak tahu? aku sudah mengenal mbak dari seseorang sejak tiga tahun lalu. Aku tahu semua tentang mbak dari dia, dan semua cerita tentang mbak itu selalu memberi inspirasi dan motivasi bagi diriku selama ini, oleh karena itu aku sangat ingin berteman dengan mbak dan ingin belajar denganmu. Mbak juga tahu? selama tiga tahun itu aku mencari identitas mbak sampai akhirnya aku menemukan facebook dan nomor hp mbak.. mbak mau kan berteman denganku dan mau membantu aku untuk jadi wanita yang lebih baik? ” jelas Ningsih panjang lebar.

“Subhanallah Ning, aku kagum dengan semangatmu untuk belajar dan memperbaiki diri. Insya Allah aku bantu, kita akan sama-sama belajar. Alhamdulillah kalo kamu bisa termotivasi oleh orang lain, Tapi aku mohon, jangan pernah kamu kagumi wanita biasa seperti aku yang banyak dosa dan kekurangan. Jangan kamu jadikan aku sebagai cermin bagi dirimu, karena bisa jadi kamu jauh lebih baik dari aku..”

“tidak mba, apakah mbak tahu bagiamana aku. Walau aku sudah memakai jilbab tapi akhlakku belum terjaga dan hatiku masih kotor. Aku masih sering terbawa dengan aku yang dulu, aku yang sangat tomboy itu.. hiks..hiks..”
“ingat Ning, semua orang pasti punya masa lalu, baik pahit ataupun manis. Tapi, sebisa mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari masa lalu itu, dan jangan pernah tenggelam dalam masa lalu pahit yang sudah pernah kita reguk, itu hanya akan membuat kita sedih dan sulit untuk bangkit. ”
“ iya, mbak benar, terimaksih ya..”

          Malam kian larut. Nurida masih terjaga, ia masih belum bisa melupakan pertemuan tadi siang dengan gadis berjilbab yang semangat untuk memperbaiki dirinya. Apalagi ia belum sempat menanyakan kepada Ningsih siapa orang yang telah menceritakan semua tentang dirinya kepada Ningsih, ia sangat penasaran. Tanpa terasa air matanya merembes membasahi wajahnya yang sendu. Betapa ia menyadari ia hanya wanita hina yang takan pernah sempurna menjadi muslimah, ia juga menyadari kekaguman dan sanjungan orang hanya akan menambah kehinaan dan kenistaan dirinya. Ia terus menguatkan hatinya, agar tidak larut dalam pujian karena pujian itu semata-mata milik dan hak Allah Ta’alla. Yang Maha Tinggi, Maha Sempurna, dan Maha Segala-galanya.
          Keesokan harinya, Ningsih kembali datang menemui Nurida. Kini, guratan kesedihan begitu terpancar jelas dari wajahnya yang halus. “apa yang terjadi Ning, kenapa sedih begitu ??” Tanya Nurida cemas. “mbak, semalaman aku menangis dan tidak bisa tidur sampai pagi. Setelah ketemu mbak kemarin aku jadi sangat sedih dan semakin iri dengan mbak. Kenapa aku tidak bisa seperti mbak, kenapa dia selalu membeda-bedakan aku, dan kenapa semua yang aku lakukan selalu salah dimatanya ??” kata Ningsih dengan terisak.

Nurida tak kuasa melihat Ningsih tersedu-sedu, ia pun memeluk Ningsih dan berusaha menenangkan hatinya. “ Ceritakanlah semuanya padaku Ning, apa yang sebenarnya kamu alami, siapa yang sudah membeda-bedakan kamu dan menilai kamu salah dimatanya?” Tanya Nurida setelah melihat Ningsih tenang.
“ Mbak kenal mas Haris?” Tanya Ningsih menghapus air matanya.
“ Haris Naufal maksudmu?” jawab Nurida balik bertanya.
“ betul mbak”

“iya aku kenal, dia teman SMA-ku dulu Ning. Kenapa dengan dia? Kamu juga mengenalnya?”.

“dia sahabatku mbak, dialah orang yang selama ini mengenalkan aku dengan sosok mba yang sangat lembut ini. Dialah orang yang selama ini menyuruhku untuk berubah. Dia menginginkan aku seperti mbak..”

“ Benarkah begitu Ning? Tapi atas dasar apa dia menginginkan agar kamu seperti aku?”

“Tidak tahu. Yang aku tahu dia sangat mengagumi kamu mbak, sampai-sampai setiap saat dia selalu bercerita tentang mba didepan aku. Awalnya aku memang termotivasi untuk bisa menjadi wanita yang lembut seperti mba Nurida, tapi lambat laun aku merasa dia sangat berlebihan menilai mba, sampai-sampai dia menganggap aku selalu buruk dan tidak akan bisa seperti mbak. Hal itulah yang membuat aku sempat marah dan benci dengan mba Nurida. Rasanya aku ingin sekali memberi perhitungan dengan mba setiap kali ia menyebut nama mba di depanku. Maafkan aku mba.. hiks hiks…”

“Masyaa Allah, kamu menyukai Haris Ning, lantas kamu cemburu atas kekagumannya padaku?”

“Lebih dari itu mba, aku tidak hanya menyukainya, bahkan aku dan Mas Haris sudah tiga tahun menjalin hubungan serius. Tapi selama itu mas Haris tak pernah sedikitpun melupakan kekagumannya pada mba. Aku selalu berusaha untuk bertahan, walau sebenarnya aku tak kuat bila harus selalu di beda-bedakan, tapi aku juga  sudah berusaha untuk berubah menjadi orang lain, menjadi seperti orang yang dikaguminya, tapi dia tak pernah menghargai usahaku mba, dia menganggap aku takan pernah bisa berubah.”

“Ya Allah.. Ning aku tak pernah menyangka Haris seperti itu. Haris yang aku kenal adalah orang yang sangat baik kepada siapapun, itu yang membuat aku merasa nyaman menjadi sahabatnya. Maafkan aku Ning, aku tak pernah tahu bahwa dia ada hubungan serius dengan wanita secantik dan sebaik kamu, sungguh aku pun tak pernah tahu bahwa dia mengagumiku. Oleh karena itu, selama ini aku sering sekali berkomunikasi dengannya, walaupun hanya untuk sharing dan tukar pendapat, tapi itu terjadi karna aku betul-betul tidak pernah tahu ada kamu yang mencintainya. Tolong maafkan aku..”

“Mba tidak usah minta maaf, karna mba sama sekali tidak bersalah. Yang bersalah adalah mas Haris yang tidak bisa menjaga perasaanku. Kini aku sadar kenapa mas Haris begitu mengagumimu, bahkan semua orang pun tahu mba adalah wanita yang lembut dan penuh kasih sayang.. aku ingin sekali belajar darimu mba”

Mendengar kata-kata itu, dada Nurida menjadi sesak, ia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Ningsih, seorang muslimah yang baru saja ia kenal. Seketika air matanya tumpah tak dapat terbendung lagi. Nurida menangis sesunggukan..

“Ning, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaanku jika aku berada dalam posisimu, aku tak mungkin bisa sekuat dirimu..”

“Tapi itu belum seberapa mba, ada masalah yang lebih besar dari itu, masalah yang  membuat aku benar-benar jatuh karena rasa penyesalan yang begitu dalam di hati ini.” Air matanya kembali meleleh, lebih deras.. dalam tangis yang tersedu-sedu ia melanjutkan ceritanya.
“Mba tahu? Aku bukanlah wanita kuat seperti yang mba bayangkan baru saja, aku sangat lemah bahkan tak bisa perpikiran positif dan terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan. Sebulan yang lalu, saat aku berada dalam masa-masa yang teramat sulit dan pikiranku dangkal, aku meminta mas Haris untuk memutuskan hubungannya denganku bahkan sebelumnya aku telah menampar dan memukuli mas Haris sampai ia terluka karena saat itu aku sudah sangat kesal dengan sikapnya yang berlebihan terhadap mba. Padahal beberapa hari lagi ia akan pergi ke Malaysia untuk melnjutkan studinya disana. Sekarang, Aku menyesal mba, sangat menyesal. Kenapa ini semua harus terjadi.. kenapa aku menyakiti mas Haris disaat aku harus kehilangannya..”

Mereka berdua saling berpelukan, tenggelam dalam tangis kepiluan dan keharuan yang luar biasa.

“Mba, tolong jangan pernah tinggalkan aku, tolong ajari aku bagaiman seharusnya menjadi muslimah yang baik, aku benar-benar ingin bangkit dan berubah menjadi lebih baik lagi.”

“Ning, kamu sudah sangat tahu, bahwa aku lah wanita yang telah merusak hubunganmu dengan Haris, aku juga yang sudah menjadi penyebab timbulnya masalah dalam hidupmu, apa yang bisa kamu pelajari dari wanita macam aku ini.”

“Rasanya aku telah menemukan orang yang tepat yang bisa membantuku..”

“Tidak ada tempat yang paling tepat bagi seorang hamba yang ingin kembali ke jalan lurus, selain kembali kepada Allah yang memiliki keagungan dan kesempurnaan. Mungkin kini saatnya kamu memperbaiki diri untuk Allah semata bukan karna paksaan orang lain apalagi untuk menarik perhatian dan penilaian manusia. Sekali lagi, aku hanya wanita biasa yang masih harus banyak belajar, aku tidak layak kau contoh Ning. Teladanilah para bidadari penghuni syurga yang telah Allah turunkan sebagai figure teladan untuk kita para kaum muslimah. Siti Khadijah, Siti Asyiah, Siti Maryam dan Siti Fatimah..”

“Maha suci Allah mba, aku benar-benar telah mendapat pencerahan. Sekarang aku akan berusaha mengikhlaskannya, aku akan kembali kepada Allah dan belajar untuk berubah menjadi muslimah yang baik karena Allah..”

“Alhamdulillah, semoga Allah membantumu ukhti. Tapi ingat satu hal, walaupun kamu ingin menjadi lebih baik, tapi kamu tidak perlu menjadi orang lain, kamu harus tetap menjadi dirimu sendiri, dirimu sebagai Ningsih Lailasari..”

“Iya mba terima kasih banyak, itu nasihat yang sangat indah..”

Setelah pertemuan tangis dua sahabat itu, mereka bersama-sama mengarungi samudera kehidupan yang begitu dalam maknanya. Hingga hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun mereka jalani penuh keindahan dengan warna persahabatan yang mereka jalin diatas jalan Allah yang lurus. Sungguh persahabatan yang indah, persahabatan yang melahirkan kebersamaan meraih ridho Allah, dan persahabatan yang memberi kekuatan dalam hidup. Subhanallah. Selalu ada hikmah terbesar di setiap ujian yang melanda..

Untuk sahabat-sahabatku, "Ningsih dan Haris". Kalian adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Sedih rasanya mengenang perpisahan kalian. Maafkan aku telah hadir ditengah-tengah kehidupan kalian yang berbahagia hingga aku menjadi batu sandungan dalam hubungan kalian..
Aku berharap, semoga Allah mempertemukan kalian kembali dalam perjumpaan yang indah penuh ridho-Nya. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin..